Mesin Pencari Ilmu Peternakan Dot Com

Loading...

Wednesday, July 29, 2009

Perencanaan dan Evaluasi Proyek Usaha Peternakan

Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email:
priyono.spt@gmail.com


Menanamkan investasi untuk usaha peternakan merupakan langkah yang tepat, karena usaha dibidang peternakan saat ini memiliki prospek yang baik. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan harga produk ternak yang tidak pernah menurun secara drastis. Selain itu, produk peternakan juga memiliki nilai yang tinggi serta selalu dibutuhkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat sebagai sumber protein hewani.


Setiap usaha membutuhkan adanya manajemen yang harus direncanakan dengan tepat. Matangnya manajemen usaha peternakan dengan mempertimbangkan segala aspek-aspek yang ada didepannya merupakan faktor yang menentukan kesuksesan dari suatu proyek usaha peternakan. Setiap perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan proyek membutuhkan adanya evaluasi. Evaluasi merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai apakan suatu proyek peternakan berhasil atau tidak. Oleh karena itu, dalam proyek usaha peternakan diperlukan adanya perencanaan dan evaluasi proyek. Ariyoto (1980) menyatakan bahwa evaluasi proyek dilakukan dengan evaluasi pasar, evaluasi teknis teknologis, evaluasi manajemen, evaluasi yuridis dan evaluasi finansiil ekonomis. Lebih lanjut Kamal dan Rahardja (1983) menyatakan data evaluasi finansial diperlukan dalam evaluasi proyek.


Perencanaan dan evaluasi proyek dapat dibagi menjadi 7, yaitu identifikasi, seleksi, pengambilan keputusan, implementasi, pelaksanaan proyek, Pengawasan proyek dan evaluasi proyek. Penjelasan mengenai tahap-tahap proyek tersebut yaitu:



  1. Identifikasi
    Identifikasi proyek merupakan proses yang paling awal dalam penyusunan rencana proyek. Identifikasi meliputi lokasi proyek, jumlah ketersediaan pakan ternak, jalur pemasaran ternak, perijinan, analisis finansial, dampak lingkungan dan analisa kekuatan, kelemahan, ancaman dan hambatan jika proyek usaha peternakan dijalankan. Selain itu, juga ditentukan proyek apa yang akan dijalankan sesuai dengan potensi dan sumberdaya yang ada.


  2. Seleksi
    Setelah selesai melakukan identifikasi proyek, tahap selanjutnya adalah melakukan seleksi terhadap proyek-proyek usaha yang diajukan. Seleksi didasarkan pada kriteria penilaian dari semua segi. Segi utama yang menjadi perhatian utama adalah dari aspek finansial, karena aspek ini sangat menentukan keberlanjutan suatu proyek usaha peternakan. Aspek lain yang dinilai selain aspek finansial yaitu aspek teknis produksi, aspek lingkungan, aspek perijinan, aspek manajemen, aspek organisasi dan aspek sosial.


  3. Pengambilan Keputusan
    Tahap pengambilan keputusan merupakan tahap ketiga yang harus dilakukan setelah menyeleksi proyek berdasarkan aspek-aspek yang telah disebutkan diatas. Pengambilan keputusan harus benar-benar tepat dan telah dipertimbangkan dengan matang, sehingga setelah proyek dijalankan tidak timbul masalah atau kerugian dikemudian hari. Proyek yang diambil merupakan proyek yang paling menguntungkan, tidak menimbulkan dampak lingkungan yang negatif, pemasaran produk tinggi dan konsumen menyukai produk dari proyek tersebut.


  4. Implementasi
    Setelah diputuskan proyek yang akan dijalankan, maka tahap selanjutnya adalah implementasi. Pada tahap ini, mulai ditentukan lokasi yang digunakan, alat-alat yang diperlukan, penentuan mesin-mesin yang akan digunakan dan mempersiapkan dan memutuskan hal-hal yang harus disiapkan pada waktu pelaksanaan proyek.


  5. Pelaksanaan Proyek
    Tahap pelaksanaan proyek merupakan tahap mulai dilaksanakannya suatu proyek sampai proyek tersebut menghasilkan produk untuk dipasarkan kepada konsumen secara kontinyu sesuai dengan umur proyek.


  6. Pengawasan Proyek
    Setelah proyek dilaksanakan maka sepatutnya dilakukan proses monitoring untuk melihat performansi proyek sehingga akan memberikan feedback bagi pelaksana proyek apabila terdapat kendala atau hambatan dalam pelaksanaan proyek tersebut
    Evaluasi Proyek


  7. Tahap terakhir dari perencanaan dan evaluasi proyek ini yaitu menganalisa hasil-hasil kegiatan proyek mulai dari perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan hasil kesuksesan dari suatu proyek. Pada tahap ini dilakukan evaluasi apakah proyek telah mencapai tujuannya dan apakah telah mengantisipasi dampak yang terjadi.


DAFTAR PUSTAKA



Ariyoto, K. 1980. Feasibility Study. Penerbit Mutiara. Jakarta.



Kamal, M. dan Rahardja. 1983. Evaluasi Proyek Keputusan Investasi. Badan Penerbit Undip. Semarang

Thursday, July 23, 2009

Analisis Usaha Tani Ternak Sapi Perah Rakyat

Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email: priyono.spt@gmail.com


Susu merupakan produk asal ternak yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan yang ada didalamnya seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral dibutuhkan untuk pembentukan jaringan tubuh, sumber protein, energy dan aktivitas sel-sel dalam tubuh. Susu dapat dihasilkan dari ternak yang diperah. Saat ini, ternak yang dapat menghasilkan susu untuk dikonsumsi oleh manusia hampir semuanya berasal dari ternak sapi dan kambing perah. Susu dari sapi perah harganya lebih murah dan kuantitas dipasaran lebih banyak dibandingkan susu dari ternak kambing.


Industri Pengolahan Susu (IPS) supaya dapat memenuhi kebutuhan konsumen, harus memperoleh bahan baku susu segar dari industri peternakan. Industri peternakan di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu usaha peternakan rakyat dan usaha intensif untuk tujuan komersil. Industri peternakan dalam negeri saat ini hanya mampu memasok 30 % bahan baku susu segar untuk memenuhi permintaan IPS. Hal ini menunjukkan bahwa 70 % bahan baku susu segar masih harus diimpor. Dengan melihat kondisi ini, maka usaha ternak sapi perah harus ditingkatkan lagi populasi dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS.


Usaha peternakan rakyat merupakan usaha budidaya ternak yang dikelola oleh petani peternak di pedesaan dengan skala kepemilikan ternak kecil dengan rata-rata kepemilikan kurang dari 5 ekor. Hal tersebut sesuai dengan Priyono (2008) yang menyatakan bahwa skala kepemilikan peternakan rakyat ternak sapi potong antara 3-5 ekor per rumah tangga peternak. Usaha tani ternak sapi perah rakyat umumnya hanya dijadikan sambilan oleh para petani jika mereka sewaktu-waktu membutuhkan biaya yang cukup besar.


Untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan, maka harus lebih intensif dalam menjalankan usaha. Karena sebagian besar para peternak sapi perah merupakan skala usaha peternakan rakyat, maka difokuskan pada peningkatan skala usaha dari usaha ternak sapi perah yang dilakukan oleh para petani peternak di Pedesaan. Sebelum melakukan perluasan skala usaha maka dibutuhkan suatu kajian dan analisis mengenai usaha peternakan sapi perah rakyat. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efisiensi usaha dan pendapatan yang diperoleh petani peternak dengan jumlah ternak yang dimilikinya.


Analisis usaha tani ternak sapi perah dapat dilakukan dengan menganalisis usaha tani. Dalam analisis usaha tani perlu dicermati biaya-biaya yang diperhitungkan dan biaya yang tidak diperhitungkan. Contohnya sebagian besar petani tidak memperhitungkan tenaga dan pakan yang dapat diperoleh dari kebun sendiri. Oleh karena itu, dalam analisis usaha tani diperlukan analisis pendapatan. Soekartawi (1986) menyatakan bahwa pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.


Penerimaan diperoleh dari penjualan output hasil produksi. Output yang harus diperhitungan meliputi penjualan susu, penjualan pedet, penjualan limbah peternakan dan penjualan sapi perah afkir. Sedangkan input dibagi menjadi input biaya tetap dan input biaya variabel. Input biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan tanpa terpengaruh oleh volume faktor produksi dan input biaya variabel merupakan biaya yang terpengaruh oleh volume faktor produksi. Selain itu, investasi yang dikeluarkan juga harus diperhitungkan. Penyusutan investasi dimasukkan dalam biaya tetap. Penyusutan kandang dan peralatan dapat digunakan metode garis lurus (Emery et al., 1962). Investasi pada usaha tani ternak sapi perah seperti pembangunan kandang, peralatan dan pembelian sapi. Untuk mengetahui jumlah keuntungan yang diperoleh dengan investasi yang ditanamkan dapat digunakan analisis Return On Investment (ROI).


Analisis titik impas atau Break Event Point (BEP) dalam analisis usaha ternak sapi perah rakyat juga perlu dilakukan untuk mengetahui titik impas dimana semua biaya dapat tertutup oleh penerimaan. BEP adalah suatu keadaan yang menunjukkan bahwa suatu usaha tidak rugi dan tidak untung (Abdurrachman, 1963; Johannes et al., 1980). Dengan dilakukannya analisis usaha tani ternak sapi perah rakyat maka dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan perluasan skala usaha dengan melihat kemampuan dan sumberdaya yang ada. Oleh karena itu, pembangunan peternakan khususnya usaha ternak sapi perah perlu mendapat bantuan dan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta dan investor.


DAFTAR PUSTAKA


Abdurrachman, A. A. 1963. Esiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, Inggris –Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta.


Johannes, H., Budiono, dan S. Handoko. 1980. Pengantar Matematika untuk Ekonomi. LP3ES, PT. Internusa, Jakarta.


Emery, N. C., H. B. Manning and J. S. Frederick. 1962. Farm Business Management. 2nd Edition The MacMillan Co., New York.


Priyono. 2008. Studi Keterkaitan Antara Ikatan Sosial Dengan Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Banjarnegara. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto.


Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. K Press, Jakarta.

Monday, July 20, 2009

Pemilihan Daging Sapi yang Berkualitas


Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email: priyono.spt@gmail.com


PENDAHULUAN


Permintaan akan konsumsi daging dewasa ini meningkat seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di Indonesia. Hal tersebut memacu industri peternakan baik pembibitan maupun penggemukan sapi daging bergeliat. Usaha peternakan sapi pedaging atau sapi potong berusaha untuk menghasilkan produktivitas sapi yang tinggi dengan pertambahan bobot badan yang tinggi, kuotanya sesuai dengan permintaan pasar dan ternak bebas dari penyakit yang dapat membahayakan konsumen.


Daging sapi merupakan bagian yang diperoleh dari pemotongan ternak sapi yang ditujukan untuk dikonsumsi oleh manusia. Daging sapi sebagai sumber pangan asal hewani mempunyai nilai gizi yang tinggi karena didalamnya mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Daging merupakan bahan pangan asal ternak sebagai sumber protein hewani yang berfungsi untuk membantu pertumbuhan sel-sel dan jaringan otak jika dikonsumsi dengan seimbang baik dari segi kualitas maupun dari segi kualitas.


Daging sapi yang yang tidak sehat jika dikonsumsi dapat menimbulkan penyakit bagi konsumen yang memakannya. Oleh karena itu, dalam membeli daging baik di supermarket maupun di pasar secara langsung, konsumen harus hati-hati. Beberapa bulan yang lalu sempat ramai dibicarakan adanya daging glonggong yang tidak memenuhi standar kualitas daging, sehingga diperlukan pengetahuan khusus dalam memilih daging yang sehat. Selain itu, konsumen diharapkan membeli daging yang segar dan bukan daging yang sudah tidak layak konsumsi. Berdasarkan keadaan tersebut, maka dibutuhkan pengetahuan mengenai bagaimana sebaiknya memilih daging yang berkualitas.


PEMBAHASAN


Secara umum daging yang baik dan sehat adalah berasal dari daging ternak yang sehat, disembelih sesuai prosedur, disembelih ditempat yang resmi seperti RPH, terjamin kebersihannya, diangkut dengan kendaraan khusus dan dibeli dipasar atau supermarket yang bersih dan higienis (Tim Pengajar MTP, 2008).


Sifat-sifat yang dimiliki oleh daging sapi menurut Darmiati Disnak Sulsel yaitu:
a. Warna merah pucat, merah keungu-unguan dan akan berubah menjadi chery jika daging tersebut terkena oksigen,
b. Serabut daging halus dan sedikit berlemak,
c. Konsistensi liat,
d. Lemak berwarna kekuning-kuningan,
e. Bau dan rasa aromatis.

Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam menentukan kualitas daging yang baik adalah sebagai berikut:
a. Daging yang sehat kenyal atau padat dan untuk memeriksanya daging dapat ditekan dengan jari untuk mengetahui apakan daging tersebut kenyal atau tidak.
b. Daging yang sehat dan berkualitas baik memiliki aroma khas daging, baunya sedap dan rasanya relatif gurih.
c. Daging yang dipilih sebaiknya tidak terlalu basah, karena untuk menahan pertumbuhan organisme dari luar.
d. Untuk mendapatkan daging dengan cita rasa yang enak, sebaiknya dicari daging yang marbling yaitu kandungan lemak yang terdapat diantara otot.
e. Daging berwarna merah keungu-unguan atau merah pucat, warna daging juga dipengaruhi oleh jenis, genetik dan umur ternak.


KESIMPULAN


Secara umum daging yang baik dan sehat adalah berasal dari daging ternak yang sehat, disembelih sesuai prosedur, disembelih ditempat yang resmi seperti RPH, terjamin kebersihannya, diangkut dengan kendaraan khusus dan dibeli dipasar atau supermarket yang bersih dan higienis.


DAFTAR PUSTAKA


Darmiati. Mengenal Jenis dan Kualitas Daging Ternak. Pengawas Mutu Hasil Pertanian Muda. http://disnaksulsel.info.


Tim Pengajar MTP. 2008. Memilih Daging Ternak. Tatap Muka Kuliah Manajemen Ternak Potong. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Pengolahan Kompos Dari Limbah Usaha Peternakan Sapi Perah


Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email:
priyono.spt@gmail.com




PENDAHULUAN


Kegiatan pembangunan peternakan harus memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya. Dengan adanya usaha peternakan selain dihasilkan produk peternakan baik berupa daging maupun susu, juga menghasilkan limbah yang harus dikelola dengan baik. Limbah dari usaha peternakan dapat berupa padatan dan cairan. Bentuk padatan terdiri dari feses/kotoran ternak, ternak yang mati, dan isi perut dari hasil pemotongan ternak. Bentuk cairan terdiri dari urine ternak, air sisa pembersihan ternak maupun air dari sisa pencucian alat-alat ternak.
Usaha peternakan sapi perah dengan skala usaha ternak lebih dari 20 ekor dan berada dalam satu lokasi akan menghasilkan limbah yang berdampak pada lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan SK Mentan No 237/Kpts/RC410/1991 yang menyatakan bahwa perlu evaluasi terhadap lingkungan pada usaha peternakan sapi perah dengan skala lebih besar dari 20 ekor dan relatif terlokalisasi. Jumlah limbah satu ekor sapi dengan bobot 400-500 kg dapat menghasilkan limbah padatdan cair sebanyak 27,5-30 kg/ekor/hari. Oleh karena itu, evaluasi lingkungan benar-benar harus diperhatikan (Hidayatullah et al., 2005).
Semakin bertambahnya populasi ternak sapi perah seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan konsumsi susu, akan menghasilkan banyak limbah yang harus ditangani. Adanya pencemaran lingkungan akibat limbah usaha ternak sapi perah umumnya mendapat protes dari warga masyarakat yang terkena dampaknya, umumnya air sungai menjadi kotor, muncul penyakit kulit dan gatal-gatal serta menimbulkan bau yang tidak sedap. Hal tersebut selaras dengan Juheini (1999) yang mengemukakan sebanyak 56,67% peternak sapi perah membuang limbah ke badan sungai tanpa pengelolaan, sehingga terjadi pencemaran lingkungan.
Pengelolaan limbah yang kurang baik akan membawa dampak yang serius pada lingkungan, sebaliknya jika limbah dikelola dengan baik maka akan memberikan nilai tambah. Salah satu bentuk pengelolaan limbah yang mudah dilakukan yaitu dengan diolah menjadi pupuk kompos. Ginting (2007) mengemukakan bahwa kompos adalah hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa kotoran ternak atau feses, sisa pertanian, sisa makanan ternak dan sebagainya. Dengan diolahnya limbah peternakan menjadi kompos akan membawa keuntungan pada peternak dan petani yaitu untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan dapat digunakan sebagai pupuk tanaman pertanian.


PEMBAHASAN

Limbah peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbah padat dan cairan, gas, ataupun sisa pakan (Soehadji, 1992). Limbah peternakan ini dapat diolah menjadi kompos yang memiliki banyak manfaat. Manfaat kompos diantaranya dapat memperbaiki struktur hara tanah, meningkatkan daya serap tanah terhadap air dan sebagai sumber makanan bagi tanaman diatasnya.
Kompos sering disebut dengan pupuk organik. Kompos dapat menambah unsur hara baik makro maupun mikro dalam tanah. Ginting (2007) menyatakan bahwa proses pengomposan dibantu dengan suhu 600C dan proses penguraian ini mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik sukar larut menjadi senyawa organik larut yang berguna bagi tanaman.
Pembuatan kompos secara alami membutuhkan waktu yang lama yaitu sekitar 2 bulan, baru dapat dimanfaatkan hasil penguraian dari kompos ini. Proses penguraian kompos dapat dipercepat dengan menggunakan bantuan activator pengomposan yang banyak dijual dipasaran seperti Stardex, EM4, Green Posnko dan bahan lainnya. Cara pengolahan kompos dengan menggunakan aktivator green posnko menurut Ginting (2007), yaitu:
a. Dilakukan persiapan bahan-bahan yang akan digunakan
b. Bahan yang akan diolah diperkecil ukurannya sekitar 5-10 cm
c. Green posnko dilarutkan dan ditambah gula merah pada malam sebelumnya
d. Bahan yang sudah diaduk diciprati dengan green posnko kemudian ditutup dengan selapis tanah
e. Hal ini dilakukan secara berulang-ulang sampai bahan yang ada habis Kemudia ditutup dengan goni 3-4 hari dengan suhu 10-50 derajat C
f. Apabila telah matang maka sudah menjadi pupuk organik

KESIMPULAN

Limbah peternakan ini dapat diolah menjadi kompos yang memiliki banyak manfaat diantaranya dapat memperbaiki struktur hara tanah, meningkatkan daya serap tanah terhadap air dan sebagai sumber makanan bagi tanaman diatasnya. Proses penguraian kompos dapat dipercepat dengan menggunakan bantuan activator pengomposan green posnko.


DAFTAR PUSTAKA


Ginting, N. 2007. Teknologi Pengolahan Limbah Peternakan. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Hidayatullah, Gunawan, K. Mudikdjo dan N. Erliza. 2005. Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah Melalui Penerapan Konsep Produksi Bersih. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Vol 8 No 1, Maret 2005: 124-136
Juheini, N dan Sakryanu, KD. 1998. Perencanaan Sistem Usahatani Terpadu dalam Menunjang Pembangunan Pertanian yang Berkelanjutan : Kasus Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Jurnal Agro Ekonomi (JAE) Vol. 17 (1). Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Balitbangtan. Deptan. Jakarta.
Soehadji, 1992. Kebijaksanaan Pemerintah dalam Pengembangan Industri Peternakan dan Penanganan Limbah Petemakan. Makalah Seminar. Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta.
Surat Keputusan Menteri Pertanian, 1991. SK. Mentan No. 273/Kpts/RC410/1991 tentang Batasan Usaha Peternakan yang harus Melakukan Evaluasi Lingkungan. Departemen Pertanian. Jakarta.

Friday, July 17, 2009

Fasilitas Kredit Untuk Meningkatan Kesejahtraan Keluarga Petani Peternak


Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro



PENDAHULUAN


Kemiskinan merupakan masalah yang sampai saat ini masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut diperparah dengan adanya krisis ekonomi dan moneter mulai tahun 2007, sehingga inflasi tidak dapat dikendalikan dan harga-harga bahan kebutuhan pokok masyarakat melambung tinggi. Oleh karena itu, kemiskinan merupakan hal yang bersifat komplek dan multidimensi, sehingga jika masalah kemiskinan sudah dapat diatasi maka permasalahan-permasalahan yang lainnya juga akan lebih mudah untuk diatasi.


Pemerintah telah banyak mengupayakan strategi dan kebijakan pembangunan untuk mengatasi kemiskinan. Salah satunya adalah melalui pendekatan pemberdayaan keluarga yang mengacu pada UU no. 10 tahun 1992 yang pelaksanaannya diatur dalam Inpres no 3 tahun 1996 tentang pembangunan keluarga sejahtera dalam rangka peningkatan penanggulangan kemiskinan (Handayani, 2005).


Penekanan pada Inpres no 3 ini yaitu usaha yang terpadu dan menyeluruh yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam membantu meningkatkan kesejahtraan pada keluarga yang masih dalam tahap pra sejahtra dan sejahtera 1 agar mampu meningkatkan kemampuan, kemauan dan potensi yang dimiliki untuk dapat mengangkat diri dan keluarganya dari ketertinggalan dalam bidang sosial dan ekonomi.


Saat ini, usaha ternak pada masyarakat di pedesaan umumnya hanya dilakukan sebagai sambilan dan hanya sebagian kecil yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Jumlah kepemilikan ternaknya juga terbatas, misalnya rata-rata kepemilikan ternak sapi potong di Kabupaten Banjarnegara kurang dari 5 ekor per keluarga petani peternak (Priyono, 2008). Hal tersebut mengakibatkan kontribusi pendapatan dari usaha ternak kecil dan petani peternak belum mampu meningkatkan kesejahtraan keluarga.


Kecilnya skala kepemilikan ternak para keluarga petani peternak membutuhkan adanya penambahan modal untuk memperluas skala usahanya. Ismawan (2003) menyatakan bahwa pengusaha kecil aksesbilitas modal (permasalahan permodalan) merupakan masalah utama. Oleh karena itu, pemberian permodalan dalam bentuk kredit perlu diberikan. Pemberian kredit pada petani peternak dengan skala usaha kecil perlu dilakukan untuk membantu memanfaatkan tenaga, waktu, sumberdaya dan kreatifitas petani peternak dalam usaha untuk meningkatkan kesejahtraan keluarga.


PEMBAHASAN


Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah yang bersifat kompleks dan multidimensi. Suparlan (1995) mengemukakan kemiskinan adalah standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umumnya berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Lebih lanjut Bappenas (1993) mendefiniskan kemiskinan sebagai suatu situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena dikehendaki oleh simiskin, akan tetapi karena tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya.


Keberadaan keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat dapat membantu usaha untuk menanggulangi masalah kemiskinan. Hal tersebut dicapai dengan cara member peluang pada keluarga untuk mengembangkan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Jika hampir semua keluarga masyarakat Indonesia sudah dalam tahap sejahtera, tentunya masalah kemiskinan sudah dapat ditekan.


Bappenas (1996) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan keluarga masuk dalam keluarga tahap pra sejahtera dan sejahtera 1 yaitu dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kesakitan, kebodohan, ketidaktauan, ketidakterampilan, ketinggalan teknologi, dan ketidak mampuan modal. Sedangkan faktor eksternal meliputi struktur sosial ekonomi yang menghambat, nilai-nilai dan unsur budaya yang kurang mendukung dan kurangnya akses untuk dapat memanfaatkan fasilitas pembangunan.


Pemberian Kredit
Penanggulangan kemiskinan pada keluarga petani peternak yaitu dengan memanfaatkan potensi yang ada pada keluarga tersebut. Permasalah modal dapat dibantu dengan adanya pemberian kredit dengan bunga yang tidak tinggi dan sesuai dengan kemampuan keluarga petani peternak. Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati (Muljono, 1996).


Pemberian kredit ini harus disesuaikan dengan usaha yang sedang dijalankan oleh peternak. Kredit diberikan pada usaha tani ternak yang produktif. Sehingga kemungkinan penyalahgunaan kredit dapat dapat diminimalisir. Disamping adanya pemberian kredit, petani peternak juga diberikan motivasi dan masukan-masukan mengenai teknologi-teknologi baru yang dapat diaplikasikan pada usaha tani ternaknya, sehingga usaha tani ternak menjadi lebih baik dan kesehteraan masyrakat dapat meningkat.


Sasaran dan Penggunaan Pemberian Kredit
Sasaran dan penggunaan pemberian kredit harus sesuai dan benar-benar tepat diberikan pada keluarga yang memiliki usaha tani ternak yang produktif. Sasaran pemberian kredit secara langsung dapat diberikan kepada keluarga petani peternak yang memiliki usaha tani ternak produktif. Sedangkan pemberian kredit secara tidak langsung diberikan pada tokoh atau institusi masyarakat, instansi pemerintah maupun swasta yang peduli dan berpartisipasi aktif untuk turut mensukseskan program penaggulangan kemiskinan.


Pemanfaatan pemberian kredit ditujukan untuk modal usaha ekonomi produktif dan bukan untuk kebutuhan konsumtif. Hal tersebut dilakukan karena jika digunakan untuk kebutuhan konsumtif, maka tidak akan menghasilkan laba dan tidak meningkatkan pendapatan. Contoh kebutuhan konsumtif di sini yaitu pemenuhan kebutuhan rumah tangga, membayar hutang, dan biaya sekolah. Pemanfaatan kredit sebagai modal usaha maka diharapkan akan didapatkan peningkatan pendapatan sehingga memperoleh laba. Laba yang diperoleh dapat digunakan untuk menambah modal dan memperluas usaha, sehingga usaha dapat meningkat dan kesejahtraan masyarakat juga akan meningkat.


KESIMPULAN


Pemberian fasilitas kredit pada petani peternak dengan skala usaha kecil perlu dilakukan untuk membantu memanfaatkan tenaga, waktu, sumberdaya dan kreatifitas petani peternak dalam usaha untuk memperluas usaha dalam rangka untuk meningkatkan kesejahtraan keluarga petani peternak.


DAFTAR PUSTAKA


Bappenas. 1993. Panduan Program Inpres Desa Tertinggal. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta.


Bappenas. 1996. Panduan Pembangunan Keluarga Sejahtera dalam Rangka Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan. Kantor Menteri Negara Kependudukan BKKBN. Jakarta.


Handayani, N. 2005. Dana KUKESRA dan Peningkatan Pendapatan Usaha Anggota Kelompok UPPKS di Desa Tawangsari KEcamatan Teras Kabupaten Boyolali.


Ismawan, B. 2003. Peran Lembaga Keuangan Mikro. Journal of Indonesian Economy & Business. Penerbit Fakultas Ekonomi UGM. Yogyakarta.


Muljono, T. P. 1996. Manajemen Perkreditan bagi Bank Komersiil. BPFE. Yogyakarta.


Priyono. 2008. Studi Keterkaitan Antara Ikatan Sosial Dengan Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Banjarnegara. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto.


Suparlan, P. 1995. Kemiskinan di Perkotaan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Pengelolaan Mesin Tetas Pada Usaha Penetasan Telur Itik Komersial


Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email:
priyono.spt@gmail.com



PENDAHULUAN


Pemenuhan telur dan daging itik dapat dipenuhi dari diperlukan bibit itik yang baik dan unggul. Bibit itik yang baik dan unggul hanya bisa diperoleh melalui teknik pembibitan yang ditangani sesuai prosedur yang benar (Jayasamudra dan Cahyono, 2005). Teknik pembibitan harus ditangani secara benar dan tepat, sehingga menghasilkan ternak itik yang memiliki kualitas dalam menghasilkan telur konsumsi.


Kebutuhan produksi telur dan daging itik tidak dapat terlepas dengan proses penetasan. Saat ini, penetasan telur itik di Pedesaan masih banyak yang menggunakan induk untuk menetaskan telur. Hal ini dirasa kurang efektif karena jumlah telur yang dapat ditetaskan per induk relatif sedikit, yaitu hanya berkisar antara 5 sampai 10 telur. Sementara kebutuhan konsumsi telur dan daging terus meningkat seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di Indonesia, sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk dapat menetaskan telur itik sesuai dengan permintaan.


Salah satu teknologi yang sampai saat ini mulai digunakan adalah mesin penetasan. Penetasan telur itik sudah mulai dilakukan diberbagai daerah. Usaha penetasan telur itik dengan mesin tetas di Yogyakarta pada umumnya menggunakan mesin tetas dengan kapasitas 250–350 butir/unit baik dalam skala usaha kecil, menengah hingga skala besar (Juarini dan Sumanto, 2000).


Usaha peternakan itik sebagai penghasil telur dan daging semakin mengarah pada usaha komersial yang pengelolaannya harus dilaksanakan secara efisien. Pengembangan usaha penetasan telur itik komersial seyogyanya harus dapat memenuhi permintaan dengan tidak mengabaikan kualitasnya, sehingga tercapai kepuasan antara produsen dan konsumen. Mesin tetas merupakan sumberdaya yang vital dalam keberlangsungan usaha peternakan itik secara komersial.



PEMBAHASAN


Pemilihan Telur Tetas


Telur tetas merupakan telur fertil yang akan ditetaskan baik menggunakan penetasan alami maupun menggunakan mesin tetas. Pengelolaan telur tetas membutuhkan ketelatenan dan ketekunan sehingga menghasilkan daya tetas yang tinggi. Telur tetas ini sudah dibuahi oleh pejantan dan telur tetas ini harus berasal dari induk itik yang bermutu baik.


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih telur tetas menurut Abidin (2004) yaitu:
-Berat telur harus berada pada kisaran normal, yaitu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

-Berat telur itik berkisar antara 50-60 gram per butir,

-Umur telur tetas tidak boleh lebih dari 5 hari dan telur sebaiknya disimpan pada suhu 15-17oC,
-Kulit atau cangkang telur bebas dari kotoran, baik berupa feses maupun sisa-sisa pakan yang masih menempel,
-Indeks telur normal, yaitu berkisar antara 70-80%.


Tatalaksana Penetasan


Pemilihan telur tetas yang tepat, maka akan menghasilkan daya tetas yang baik. Setelah memilih telur tetas dengan tepat, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan tatalaksana penetasan sesuai dengan kondisi aslinya. Kondisi mesin tetas disesuaikan dengan kondisi induk.
Langkah pertama yang dilakukan sebelum memasukkan telur tetas kedalam mesin tetas adalah membersihkan mesin tetas menggunakan desinfektan. Hal ini dilakukan untuk menghapushamakan bakteri maupun mikroba yang dapat mengganggu daya tetas dari telur yang ditetaskan. Suhu didalam mesin tetas diatur pada suhu 39-40oC. Kemudian telur tetas diletakkan pada rak mesin tetas dengan bagian tumpul diatas.


Mesin tetas dibagi menjadi dua bagian yaitu inkubator dan hatchery. Anak itik menetas setelah 28 hari. Jika pada ayam selama 21 hari dengan pengaturan 18 hari di inkubator dan 3 hari di hatchery. Telur diputar dua kali sehari. Pemutaran telur ditujukan untuk mendinginkan telur, seperti pada induk yang sesekali meninggalkan telurnya. Pemeriksaan telur (candling) dilakukan minimal 2 kali untuk mengetahui telur yang fertil dan infertil.


Suhu Udara Di Dalam Penetasan


Embrio akan berkembang bila suhu udara di sekitar telur minimal 70oF (21,11oC) namun perkembangan ini sangat lambat. Di bawah suhu udara ini praktis embrio tidak mengalami perkembangan, sehingga penyimpanan telur tetas sebaiknya sama atau dibawah suhu tersebut (Jasa, 2006). Berdasarkan hal tersebut, harus diatur suhu lingkungannya pada mesin tetas sesuai dengan kebutuhan proses penetasan.


Suhu embrio harus sesuai dengan kondisi pada proses penetasan alami menggunakan induk. Jasa (2006) menyatakan bahwa suhu yang baik untuk pertumbuhan embrio adalah berkisar diantara 35 – 37oC. Hal yang dilakukan supaya embrio dapat berkembang dengan baik maka suhu didalam ruang penetasan diatur dengan kisaran suhu 95 – 104oF, untuk menjamin embrio mendapatkan suhu yang ideal untuk perkembangan yang normal.


Kelembaban Relatif Penetasan


Kelembaban relatif didalam penetasan merupakan hal yang penting untuk menjaga kandungan air di dalam telur. Kelembaban relatif ditujukan untuk menjaga air didalam telur menguap terlalu banyak melalui pori-pori telur. Jasa (2006) mengemukakan kelembaban yang baik di dalam penetasan adalah berkisar antara 60% untuk menetaskan telur ayam atau 5 – 10% lebih tinggi untuk menetaskan telur itik atau saat akan menetas kelembaban dinaikkan menjadi 70% untuk menetaskan telur itik.


Pengaturan Sirkulasi Udara


Kandungan CO2 dalam penetasan jangan lebih dari 0,5%. Kandungan CO2 sampai 2% akan sangat menurunkan daya tetas dan bila mencapai 5% akan menyebabkan anak ayam atau anak itik tidak menetas. Untuk menghindarkan terjadinya hal tersebut (CO2 lebih dari 0,5%), hendaknya penetasan diusahakan jauh dari jalan raya atau jauh dari jalan yang ramai dengan kendaraan bermotor (Jasa, 2006).



KESIMPULAN


Pemenuhan kebutuhan telur dan daging itik dapat dipenuhi dengan bantuan mesin tetas pada usaha penetasan telur itik komersial. Pengelolaan mesin tetas dilakukan dengan pemilihan telur tetas, tatalaksana penetasan, pengelolaan suhu udara dan kelembaban relatif dalam mesin tetas.



DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Z. 2004. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas Semi Modern. Agro Media Pustaka. Jakarta.


Jasa, L. 2006. Pemanfaatan Mikrokontroler Atmega 163 Pada Prototipe Mesin Penetasan Telur Ayam. Teknologi Elektro. Vol 5 No.1 Januari-Juni 2006. www.pdffactory.com.


Jayasamudera D.J, dan Cahyono B. 2005. Pembibitan Itik. Penerbit Swadaya Jakarta.


Juarini, E. dan Sumanto. 2000. Model usaha itik lokal di D.I. Yogyakarta untuk menunjang pendapatan peternak. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan veteriner. Puslitbangnak. Bogor.

Sunday, July 5, 2009

Pengaruh Papain, Karpain dan Carposide (Karposit) Terhadap Cacing Haemonchus Contortus

Oleh:

Priyono, S.Pt


Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Tanaman pepaya hampir semua bagiannya mulai dari akar, daun, getah sampai biji secara empiris sudah dipergunakan sebagai antelmentik. Diduga, zat aktif dalam pepaya adalah papain, karpain dan karposit. Papain adalah enzim proteolitik yang telah dikenal sebagai pelunak daging. Zat tersebut melakukan proses pemecahan jaringan ikat yang disebut proses proteolitik. Semakin banyak protein yang dipecah, daging yang dihasilkan semakin lunak. Papain sebagai antelmentik juga bekerja seperti dalam proses melunakkan daging. Papain melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing dan cacing akan keluar dalam keadaan hidup. Hal tersebut menunjukkan bahwa papain bekerja sebagai vermifuga. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Anonim (2007) yang menyatakan bahwa vermifuga merupakan obat-obatan yang melumpuhkan cacing dan cacing dikeluarkan dalam keadaan hidup.

Pemeriksaan efek antelmentik papain kasar terhadap cacing lambung Haemonchus contortus secara in vivo pada domba jantan terinfeksi dilakukan oleh Anita Ridayanti. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian papain kasar sampai 0,6 g / kg bobot badan menyebabakan penurunan jumlah cacing dan telurnya (Anonim, 2006).

Penelitian yang dilakukan secara in vitro oleh Atiyah menggunakan bahan berupa getah yang diperoleh dengan cara menyadap buah muda papaya tanpa dipetik. Isolasi papain dilakukan dengan membiarkan getah dalam alkohol 80 %, sehingga papain akan mengendap. Endapan papain dikeringkan dalam oven bersuhu 50 – 55 o C selama enam jam. Uji terhadap Ascaris suilla dilakukan dengan merendam cacing pada larutan papain. Papain secara in vitro bekerja sebagai antelmentik pada dosis 600 mg (Anonim, 2006).

Ipteknet (2007) menyatakan bahwa tanaman papaya mengandung papain yang dapat memanjangkan daya cerna pepsin sehingga pencernaan lebih sempurna. Papain mempunyai daya anti cacing pita, cacing gelang, cacing keremi dan cacing tambang.

Enzim papain merupakan enzim yang terdpt dalam getah papaya. Enzim papain bersifat proteolitik yaitu mengkatalis ikatan peptida pada protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana seperti dipeptida asam amino. Kualitas getah sangat menentukan aktivitas proteolitik dan kualitas tersebut tergantung pada bagian tanaman asal tersebut. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, bagian tanaman yang mengandung getah dengan kualitas aktivitas proteolitik yang baik ada pada bagian buah, batang dan daun. Sifat enzim papain antara lain dapat bekerja optimum pada suhu antara 50 – 60 o C dan pH 5 – 7, serta memilki aktifitas proteolitik antara 70 – 1000 unit / gram. Aktivitas enzim selain dipengaruhi oleh proses pembuatannya juga dipengaruhi oleh umur dan jenis varietas pepaya yang digunakan (Ipteknet, 2007).

Papain merupakan satu dari enzim paling kuat yang dihasilkan oleh seluruh bagian tanaman pepaya. Enzim adalah molekul kompleks yang diproduksi makhluk hidup untuk mempercepat reaksi kimia dalam sel. Pada pepaya, getah termasuk enzim proteolitik dan protein dasarnya memecah protein menjadi pepton. Kadar papain dan kimopapain dalam pepaya muda berturut-turut adalah 10 % dan 45 %. Kimopapain merupakan enzim yang paling banyak terdapat dalam getah pepaya. Daya kerjanya mirip dengan papain, tetapi mempunyai daya tahan panas yang lebih besar. Kimopapain lebih tahan terhadap keasaman tinggi, bahkan stabil dan masih aktif pd pH 2,0. Kedua enzim ini memiliki kemampuan menguraikan ikatan-ikatan dalam molekul protein, sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida (Koswara, 2007). Hal tersebut jika bekerja pada cacing maka enzimnya akan menguraikan protein tubuh cacing, sehingga cacing menjadi lemas dan akan dikeluarkan dalam keadaan hidup (vermifuga).

Bouchut (1879) menyatakan bahwa karpain merupakan senyawa alkaloid bercincin laktonat dengan tujuh kelompok rantai metilen. Karpain efektif dalam menghambat kinerja beberapa mikroorganisme. Karpain mencerna mikroorganisme dan mengubahnya menjadi senyawa turunan pepton. Inang pun kekurangan makanan danmati. Ramsamawy dan Sirsi (2007) menyatakan bahwa jumlah senyawa karpain dalam getah pepaya mencapai 0,4 % serta membuktikan bahwa dosis 0,01 % karpain dalam ethanol dapat menghambat perkembangan lymphoid dan lymphosis leukimia.

Karpain yang merupakan senyawa alkaloid, bekerja efektif mencerna mikroorganisme, sehingga inang kekurangan makanan. Hal tersebut juga terjadi pada cacing nematoda Haemonchus contortus. Akibat karpain, maka protein tubuh cacing dicerna, sehingga cacing akan lemas dan akan keluar dari tubuh inang dalam keadaan hidup (bekerja sebagai vermifuga). Menurut Ipteknet (2007) pada daun, akar dan buah terdapat karpain yang efektif sebagai anti cacing.

Karposit merupakan senyawa yang terdapat dalam getah pepaya. Kandungan karposit lebih banyak terdapat pada daun pepaya. Karposit mempunyai fungsi yang hampir sama dengan papain dan karpain. Karposit merupakan senyawa yang aktif sebagai peluruh cacing nematoda Haemonchus contortus . Karposit bersama dengan papain dan karpain merusak protein tubuh cacing. Hal tersebut akan melemaskan cacing sehingga cacing keluar dalam keadaan hidup. Karposit merupakan antelmentik yang bekerja sebagai vermifuga. Ipteknet (2007) menyatakan bahwa kandungan carposide (karposit) pada daun pepaya berkhasiat sebagai obat cacing.

Kandungan pepaya papain, karpain dan karposit mempunyai fungsi sebagai peluruh cacing nematoda, khususnya Haemonchus Contortus pada ternak kambing dan domba. Papain, karpain dan karposit menguraikan dan mencerna protein tubuh cacing sehingga cacing akan lemas. Getah pepaya tersebut bekerja sebagai vermifuga.


Semarang, Rabu 01 Juli 2009, Pukul 15.37

Sumber:

Anonim. 2006. Haemonchus Contortus. Http:// www.iptek.net.id. Diakses 22 Maret 2007.


Anonim. 2007. Papain Perusak Tubuh Cacing. Http:// www.indomedia.com. Diakses 22 Maret 2007.


Bouchut. 1879. Journal Society of Biology. Http:// www.kimianet.lipi.go.id. Diakses 22 Maret 2007.


Ipteknet. 2007. Tanaman Obat indonesia. BPPT dan Ristek. Http: www. Ipteknet.id/ind/pd_tanobat. Diakses 22 Maret 2007.


Koswara, S. 2007. Tepung Getah Pepaya. www.Ebookpangan.com. Diakses 12 April 2007.


Ramsawamy dan Sirsi. 2007. Journal of Indian pharmation. Http:// www.kimianet.lipi.go.id. Diakses 22 Maret 2007.


TERNAK KAMBING DAN DOMBA

Oleh:

Priyono, S.Pt


Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Kambing adalah sub spesies dari kambing liar yang tersebar di Asia Barat Daya dan Eropa. Kambing merupakan suatu jenis binatang memamah biak yang berukuran sedang. Klasifikasi ilmiah ternak kambing adalah:

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mammalia

Ordo : Artiodactyla

Familia : Bovidae

Subfamilia : Caprinae

Genus : Capra

Spesies : Capra aegagrus

Subspesies : Capra aegagrus hircus (Linnaeus, 1758).

Kambing liar jantan dan betina memilki tanduk sepasang, tetapi tanduk pada kambing jantan lebih besar. Kambing pada umumnya memilki ciri-ciri khas antara lain mempunyai jenggot, dahi cembung, ekor agak keatas dan kebanyakan memiliki bulu lurus dan kasar. Panjang tubuh kambing liar tidak termasuk ekor adalah 1,3 sampai 1,4 m sedangkan yang jantan dapat mencapai 12 sampai 15 m. Bobot kambing betina adalah 50 sampai 55 kg sedangkan kambing jantan dapat mencapai 120 kg. Makanan utama kambing adalah rumput-rumputan dan dedaunan (Linnaeus, 1758).

Bangsa kambing di negara Indonesia ada beberapa macam, diantaranya kambing kacang, kambing etawa (jamnapari), kambing saanen dan kambing jawarandu. Ternak kambing dan domba mempunyai banyak kemiripan, diantaranya yaitu, bunyi mengembek, rasa daging, ukuran dan bentuk tubuh, bentuk kepala maupun kaki. Bangsa-bangsa kambing di negara Indonesia lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Bangsa-bangsa Kambing yang Ada di Indonesia

Bangsa Kambing

Ciri Khas

Tinggi Gumba (cm)

Bobot Badan (kg)

Kambing Kacang

  • Badan kecil,

  • Telinga tegak,

  • Berbulu lurus dan pendek,

  • Jantan dan betina mempunyai dua tanduk yang pendek

Jantan: 60-65

Betina: 56

Jantan: 25

Betina: 20

Kambing etawa (Jamnapari)

  • Badan besar,

  • Telinga panjang dan terkulai ke bawah,

  • Dahi dan hidungnya cembung,

  • Jantan dan betina bertanduk pendek

Jantan: 90-127

Betina: 92

Jantan: 91

Betina: 63

Kambing Saanen

  • Jantan dan betina tidak memiliki tanduk,

  • Warna bulu putih atau krem pucat,

  • Hidung, telinga dan ambingnya berwarna belang hitam,

  • Dahi lebar, telinga berukuran sedang dan tegak

-

-

Kambing Jawarandu

  • Separuh mirip kambing kacang dan separuh mirip kambing etawa

-

Jantan: 40

Betina: 35

Sumber: Mulyono (1998)

Domba atau biri-biri adalah ruminansia berkaki empat dengan rambut wol. Domba yang saat ini dikenal adalah domba peliharaan (Ovis aries) yang diduga keturunan dari moufflon liar dari Asia Tengah Selatan dan Barat Daya. Klasifikasi ilmiah domba adalah:

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mammalia

Ordo : Artiodactyla

Familia : Bovidae

Subfamilia : Caprinae

Genus : Ovis

Spesies : aries

Nama binomial: Ovis aries (Linnaeus, 1758).

Bangsa domba di negara Indonesia ada beberapa macam, diantaranya domba ekor tipis, domba priangan, domba ekor gemuk, domba merino, domba suffolk dan domba dorset. Bangsa-bangsa domba di negara Indonesia lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Bangsa-bangsa Domba yang Ada di Indonesia

Bangsa Domba

Ciri Khas

Bobot Badan (kg)

Domba Ekor Tipis

  • Tubuh kecil,

  • Ekor kecil dan tipis,

  • Betina tidak bertanduk dan jantan bertanduk kecil dan melingkar.

Jantan: 30-40

Betina: 15-20

Domba Priangan (Domba Garut)

  • Tubuh besar,

  • Daun telinga kecil dan kokoh,

  • Bulu cukup banyak,

  • Betina tidak bertanduk dan jantan bertanduk besar, kokoh, kuat dan melingkar.

Jantan: 60-80

Betina: 30-40

Domba

Ekor Gemuk

  • Bentuk ekor panjang, lebar, tebal, besar dan semakin ke ujung semakin kecil,

  • Jantan dan betina tidak bertanduk.

  • Warna bulu putih dan ada beberapa berwarna hitam atau kecoklatan

Jantan: 50-70

Betina: 25-40

Domba Merino

  • Panjang bulu mencapai 10 cm,

  • Betina tidak bertanduk dan jantan bertanduk besar, kokoh dan kuat.

Jantan: 64-79

Betina: 45-57

Domba Suffolk

  • Persentase daging 55-65 % dari bobot badan

Jantan:135-200

Betina:100-150

Domba Dorset

  • Jantan dan betina mempunyai tanduk yang melingkar

Jantan:100-125

Betina:70-90

Sumber: Mulyono (1998)

Semarang, Rabu 01 Juli 2009, Pukul 15.37

Sumber:

Linnaeus. 1758. Wikipedia Indonesia. Ensiklopedia Bebas Berbahasa Indonesia. Http:// www. Id.wikipedia.org/wiki/kambing. Diakses 12 April 2007.

Mulyono, S. 1998. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.


Cari Artikel Lain, Ketik Kata Kuncinya disini

ILMU PETERNAKAN

Top Post


Berikan Vote Disini

SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Ilmu Peternakan Dot Com. Situs ini di didirikan oleh Priyono, S.Pt, M.Si sejak tanggal 1 November 2008. Ilmu Peternakan Dot Com didirikan dengan tujuan untuk mewadahi semua hal yang berkaitan dengan bidang peternakan. Ilmu Peternakan Dot Com umumnya berisi hasil pemikiran, ilmu, informasi yang penulis persembahkan kepada semua masyarakat khususnya di Indonesia. Tujuan utamanya adalah sebagai sharing, bahan pembelajaran dan pengabdian ilmu pengetahuan kepada masyarakat. (Owner dan Founder Ilmu Peternakan Dot Com: Priyono, S.Pt, M.Si)



Berapa lama alumni peternakan dari lulus sampai memperoleh pekerjaan?ar

Photo Collection

Loading...

Statistic Graph

Visitor Counter

free counters

Latest Visitor

YM Online

Join Us

Share It...,,

Share |

Send Us Your Feedback


"Dari berbagai sumber" atau "Pustaka" pada beberapa tulisan di Situs ini yang mengutip dari sumber lain dicantumkan nama pengarang dan tahunnya (didalam naskah tulisan), sedangkan yang tidak dicantumkan merupakan pengalaman dan pengetahuan dari penulis. Bagi anda yang akan memberikan kritik dan saran dapat menghubungi saya lewat alamat email: priyono.spt@gmail.com
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)

Donate your Article


"Situs ILMU PETERNAKAN merupakan pusatnya dunia peternakan. Bagi siapa saja yang peduli akan potensi peternakan. diharapkan dapat menyumbangkan artikel, jurnal, atau lainnya untuk dapat dipublikasikan di situs ini lewat Email: priyono.spt@gmail.com. Jangan lupa disertakan CV singkat anda. Terimakasih."
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)
 

Copyright © 2009 by ILMU PETERNAKAN