Sunday, May 24, 2009

FILOSOFI PENYULUHAN

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Pertanian merupakan sektor yang paling berhubungan dekat dengan masyarakat Indonesia, karena sebagian besar rakyat Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Pada berbagai pelosok negeri di Indonesia banyak dijumpai masyarakat yang mengembangkan cocok tanam padi dan palawija serta menyambi dengan memelihara ternak sebagai tabungan. Sebagai contoh, ada ternak bebek yang digembalakan setelah hari panen tiba, dan hal tersebut tentunya menghemat biaya pakan bagi petani ternak rakyat di daerah pedesaaan. Ada juga yang memelihara ternak kambing dan sapi 2 sampai 3 ekor sebagai cadangan tabungan jika sewaktu-waktu membutuhkan uang untuk keperluan hidup sehari-hari.

Berdasarkan kondisi diatas kita dapat mengetahui bahwa untuk meningkatkan kesejahtraan rakyat Indonesia, harus ada dukungan dari pemerintah, swsata dan semua pihak dalam pengembangan sektor pertanian dan sektor peternakan. Fakta yang terjadi, walaupun dalam skala kecil, tapi sektor pertanian dan peternakan sudah menunjukkan adanya integrasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu terobosan baru untuk meningkatkan perkembangan sektor pertanian dan peternakan.

Salah satu langkah positif yang telah dilakukan pemerintah adalah melakukan revitalisasi pertanian. Langkah kongkritnya adalah dikeluarkannya Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K) No. 16 Tahun 2006 tanggal 18 Oktober 2006. Dalam UU ini disebutkan perlunya penataan kelembagaan penyuluhan pertanian pemerintah dari tingkat pusat sampai dengan tingkat kecamatan, serta menyediakan sumber dana yang merupakan kontribusi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. UU ini merupakan satu titik awal dalam pemberdayaan para petani melalui peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan para penyuluh pertanian PNS, swasta, dan penyuluh pertanian Swadaya.

Permasalahan yang sampai saat ini dihadapi adalah rendahnya kualitas dan kuantitas sumber daya tenaga penyuluh. Sehingga mulai tahun 2006 diadakan penataan tenaga penyuluh dan melakukan rekruitmen tenaga penyuluh secara berkala.

Proses penyuluhan merupakan suatu usaha untuk merubah masyarakat dengan memberikan input penyuluhan dan menghasilkan output berupa perubahan perilaku yang meliputi knowledge, attitude dan psikomotorik sehingga akan tejadi perubahan cara yang mengakibatkan perubahan produksi atau produktivitas dan pendapatan.

Beberapa filosofi penyuluhan adalah sebagai berikut:

  1. Suatu program penyuluhan dibuat berdasarkan permasalahan yang ada pada suatu tempat dan programnya disusun sesuai dengan kebutuhan,

  2. Dengan adanya penyuluhan, harapannya masyarakat dapat lebih sejahtera dan bebas dari masalah-masalah seperti kemiskinan, kekurangan, ketertinggalan dan penderitaan, sehingga programnya diusahakan supaya dapat memperbaiki mutu hidup sasaran penyuluhan,

  3. Dalam penyuluhan tidak diperkenankan untuk menghapus nilai-nilai masyarakat yang sudah ada dan mengakar pada diri mereka, tapi secara bertahap. Sehingga nilai-nilai dalam masyarakat harus diperhatikan dan dipertimbangkan serta diperhatikan selayaknya,

  4. Dalam penyuluhan masyarakat sasaran penyuluhan tidak boleh dipaksa, akan tetapi dibantu dan diberi kebebasan untuk mengembangkan kreatifitasnya,

  5. Masyarakat sasaran diarahkan untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri dengan kemampuan yang dimilikinya,

  6. Hasil penyuluhan diharapkan dapat merubah sikap, kebiasaan, pola pikir, pengetahuan dan lain sebagainya.

Dari berbagai sumber.

Semarang,

Minggu, 24 Mei 2009

Pukul 07.33

PRODUKTIVITAS TERNAK SAPI PERAH

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Ternak sapi perah memegang peranan penting dalam penyediaan gizi bagi masyarakat. Produk utama yang dihasilkan dari ternak sapi perah adalah susu. Susu merupakan cairan bukan kolostrum yang dihasilkan dari proses pemerahan ternak perah, baik sapi, kambing maupun kerbau secara kontinyu dan tidak merubah komponennya sebagai bahan pangan yang sehat. Susu sapi merupakan susu yang sebagian besar dikonsumsi oleh manusia, karena kandungan zat gizinya dapat diserap sempurna oleh tubuh. Oleh karena itu, ada makanan empat sehat lima sempurna, dan untuk mendapatkan sempurna itu harus melalui susu.

Pertumbuhan populasi sapi perah dari tahun - ketahun rata-rata meningkat, akan tetapi peningkatannya tidak setinggi pada ternak unggas. Saat ini dibutuhkan suatu metode yang tepat dalam membangun subsektor peternakan khususnya mengenai komoditas sapi perah. Karena sebagian besar susu dihasilkan dari pulau jawa, sehingga pengembangan didaerah luar jawa sangat potensial untuk dikembangkan.

Pengembangan sapi perah dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produktivitas sapi perah baik dari segi teknis maupun dari segi ekonomis. Produktivitas ternak sapi perah harus dipacu untuk dapat ditingkatkan, diantaranya manajemen reproduksi dan manajemen pakan. Hal tersebut dikarenakan besarnya produksi susu ditentukan oleh keberhasilan program-program reproduksi dan manajemen pakan yang balance (seimbang) baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Manajemen reproduksi yang baik harus mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya adalah masa kering, service period, lama laktasi, calving interval, service per conception maupun umur beranak. Salah satu masalah yang masih menjadi kendala pada peternak Indonesia adalah masih kurang diperhatikannya service period. Umumnya peternak kita service periodnya sekitar 4 bulan, padahal standar untuk mendapatkan produksi susu yang optimal dan terjadi kontinyuitas produksi service period dipatok 2 bulan. Ini akan menjadi tugas bagi kita semua untuk dapat membenahi manajemen reproduksi pada ternak sapi perah.

Selain masalah mengenai lebih tingginya service period, peternak Indonesia juga dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang melemahkan perkembangan peternakan di Indonesia dibandingkan dengan perkembangan peternakan diluar negeri yang maju sedemikian pesatnya. Beberapa masalah yang dihadapi oleh peternak Indonesia adalah:

  1. Umur Beranak

Umur pertama kali beranak pada peternak Indonesia sering ditemukan pada umur 3 tahun, padahal standar internasionalnya adalah 2 sampai 2,5 tahun. Hal ini menjadi pertanyaan bagi pemerintah atau instansi terkait, “mengapa hal ini terjadi?”. Kemungkinan besarnya adalah kurangnya pengetahuan peternak mengenai manajemen reproduksi yang tepat, seperti umur berapa pertama kali dikawinkan, masa birahi, lama birahi, kapan harus mengawinkan ternak atau menginseminasi buatan ternak. Hal ini sebaiknya diantisipasi dari awal oleh pemerintah maupun instansi terkait. Pemahaman reproduksi dapat diberikan dengan perantaraan penyuluh pertanian-peternakan maupun dengan membentuk kelompok tani ternak.

  1. Masa Kering

Sebagian besar peternak Indonesia tidak memperhatikan masa kering (>2 bulan), sedangkan standar masa kering yaitu 2 bulan.

  1. Lama Laktasi

Standar lama laktasi yaitu 10 bulan, akan tetapi peternak Indonesia sampai saat ini masih ada yang lama laktasinya kurang dari 10 bulan.

  1. Calving Interval

Calving interval peternak Indonesia, rata-rata lebih besar dari 13 bulan, sedangkan standarnya yaitu 12-13 bulan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi perah melalui aspek teknis sebelum menginjak ke pakan, sebaiknya ditata dulu dari segi manajemen reproduksinya dulu. Beternak adalah mengasyikan, mari mulai merintis budidaya ternak sapi perah melalui usaha berbasis sumber daya lokal untuk menuju pada ketahanan pangan berkelanjutan.

Dari berbagai sumber.

Semarang,

Rabu, 20 Mei 2009

Pukul 22.13

Tuesday, May 19, 2009

PRINSIP EKONOMI PRODUKSI PETERNAKAN

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Keberhasilan pengembangan ternak harus memperhatikan tiga aspek penting. Ketiga aspek tersebut adalah aspek teknis, ekonomi dan sosial. Dalam aspek ekonomi selalu berhubungan dengan proses produksi. Sehingga diperlukan kaidah-kaidah pemahaman mengenai prinsip ilmu ekonomi produksi peternakan.

Prinsip utama dalam ilmu ekonomi produksi yaitu suatu usaha untuk memaksimumkan keuntungan (profit maximization) dan meminimumkan biaya (cost minimization). Kedua prinsip ini merupakan pilar utama yang menentukan suatu performans dari usaha peternakan yang sedang dijalankan. Misalnya orang yang melakukan budidaya ayam broiler. Jika peternak tidak mampu menerapkan kedua prinsip tersebut maka walaupun produksi yang dihasilkan tinggi dan kualitas produksinya bagus, peternak tidak akan mampu untuk mengembangkan usaha budidayanya. Berdasarkan hal tersebut, kedua prinsip tersebut harus diaplikasikan dalam usaha peternakan, sehingga usahanya menjadi berkembang dan skala usahanya dapat ditingkatkan.

Dalam proses produksi tidak terlepas dari adanya input dan output. Input merupakan masukan yang diperlukan untuk kelangsungan proses produksi sedangkan output adalah hasil keluaran dari proses produksi akibat penggunaan input. Produk marginal (PM) merupakan jumlah ouput dibagi dengan jumlah input. Sedangkan tambahan ouput yang dihasilkan dari penambahan satu unit input variabel disebut Marginal Physical Product (MPP). MPP = ΔQ/ΔX1.

Proses produksi merupakan proses yang cukup komplek. Dalam proses produksi dikenal tiga kondisi, yaitu:

  1. Increasing productivity

Yaitu suatu kondisi dimana jika tambahan input akan mengakibatkan tambahan output yang semakin menaik.

  1. Constant productivity

Yaitu suatu kondisi dimana jika tambahan input akan mengakibatkan tambahan output yang tetap.

  1. Decreasing productivity.

Yaitu suatu kondisi dimana jika tambahan input akan mengakibatkan tambahan ouput yang menurun.

Elastisitas produksi, efisiensi penggunaan input dan fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan hal penting yang harus dikaji dalam prinsip ekonomi produksi peternakan. Ketiga faktor tersebut yaitu:

  1. Elastisitas Produksi

Elastisitas produksi sering disimbolkan dengan EP. Elastisitas produksi merupakan perubahan dari output akibat dari persentase perubahan input.

Rumusnya:

EP = ΔY/Y atau ΔX/X

EP = ΔY/ΔX . X/Y

Keterangan:

EP = Elastisitas Produksi

X = Input

Y = Output

  1. Efisiensi Penggunaan Input

Efisiensi penggunaan input dapat disebut juga dengan efisiensi harga atau allocative efficiency. Efisiensi penggunaan input dapat dicapai jika Nilai Produk Marginal (NPM)/harga input (Px) = 1. Jika NPMx/Px > 1, maka penggunaan input belum efisien sehingga input harus ditambah. Sedangkan jika NPMx/Px < 1, maka penggunaan input tidak efisien sehingga input perlu dikurangi.

  1. Fungsi Produksi Cobb-Douglas

Fungsi produksi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, dimana variabel yang satu disebut dengan variabel terikat/yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut variabel bebas/yang menjelaskan (X).

Dari berbagai sumber.


Semarang,

Senin 11 Mei 2009

Pukul 07.07

PERENCANAAN PETERNAKAN SAPI PERAH

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Susu merupakan bahan makanan asal ternak yang memiliki kandungan gizi tinggi. Hal ini mengakibatkan permintaan akan susu meningkat seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia setiap tahunnya. Saat ini sebagian besar susu di Indonesia masih harus diimpor (sekitar 70 %), sedangkan 30%nya di pasok dari produksi susu domestic yang sebagian besar dihasilkan oleh peternakan sapi perah rakyat. Selain itu, susu yang dihasilkan oleh peternak sapi perah Indonesia banyak yang tidak memenuhi standar IPS, sehingga banyak susu yang ditolak pabrik pengolahan susu. Tidak ada langkah lain selain membuang susu, dan hal ini tentu akan merugikan peternak Indonesia.

Sebagai generasi bangsa, setiap masyarakat Indonesia dituntut peran sertanya dalam pembangunan. Salah satu aspek penting dan vital bagi rakyat Indonesia adalah bidang pertanian, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bergerak dalam sector pertanian, termasuk didalamnya subsector peternakan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi susu masyarakat Indonesia adalah dengan banyak masyarakat yang membudidayakan peternakan sapi perah. Supaya peternakan sapi perah berjalan sesuai dengan tujuan yaitu memberikan produksi susu yang tinggi dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, maka diperlukan perencanaan yang matang sebelum memulai membudidayakan peternakan sapi perah.

Suatu usaha yang didasarkan pada rencana sebelumnya, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan usaha yang dilakukan tanpa ada rencana sebelumnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan sapi perah adalah sebagai berikut:

  1. Merintis Usaha

Sebelum memulai usaha kita harus menentukan titik awal atau latar belakang kita berusaha, apakah usaha kita merupakan pendirian usaha atau pengembangan usaha. Jika pendirian usaha, maka perencanaan akan dimulai dari awal, sedangkan jika pengembangan usaha, maka perencanaan usahanya merupakan perencanaan lanjutan. Persiapan dalam merintis usaha yaitu harus memperhatikan:

  1. Aspek Umum yang umumnya terdiri dari social, budaya, tanggapan masyarakat, dukungan pemerintah, dan lain-lain,

  2. Aspek Ekonomi, yaitu berkaitan dengan analisis usaha yang nantinya apakah usahanya akan menguntungkan atau sebaliknya memperoleh kerugian. Sehingga aspek ekonomi ini merupakan aspek yang vital dalam perencanaan usaha peternakan sapi perah,

  3. Aspek Teknis Operasional yaitu aspek yang terkait dengan teknis dan lingkungan. Tanpa adanya aspek ini, maka produksi tidak dapat dihasilkan. Untuk memperoleh usaha yang menguntungkan, maka harus dimulai dari aspek teknis yang baik dan berkualitas.

  1. Rencana Kerja Usaha

Rencana kerja disusun setelah ada ide merintis usaha. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam awal usaha yang dilakukan. Rencana kerja dapat dibagi kedalam lima bagian, yaitu:

  1. Maksud dan tujuan usaha

Usaha peternakan sapi perah dijalankan sebagai usaha produksi susu saja atau ditambah dengan usaha pembibitan sapi perah. Kejelasan maksud dan tujuan akan memudahkan dalam kelanjutan usaha kedepannya.

  1. Ternak yang akan diusahakan

Ternak yang diusahakan akan menggunakan jenis ternak tertentu, kemudian jenis kelamin tertentu dan harus dipastikan jumlah awal ternaknya berapa banyak atau jika pengembangan maka penambahan ternaknya harus diperhatikan berapa banyak.

  1. Kandang dan Gudang

Hal ini disesuaikan dengan rintisan usaha, apakah akan membuat bangunan awal atau membuat bangunan tambahan.

  1. Pakan

Pakannya harus dipantau ketersediaannya, sehingga terjadi kontinyuitas penyediaan pakan. Maka ternak dapat tercukupi kebutuhan pakannya baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

  1. Pasar

Usaha ternaknya harus mempunyai pasar yang baik. Jika pasarnya kurang baik, meskipun produksinya tinggi dan baik maka susu atau pedet tidak dapat dijual dan hal ini akan menyebabkan kerugian pada usaha peternakan sapi perah.

  1. Rencana Penggunaan Modal

Rencana penggunaan modal juga merupakan aspek yang memiliki peran vital dalam usaha, karena tanpa modal usaha hanya akan menjadi rencana saja dan tidak adapat diaplikasikan. Modal usaha yang harus dikeluarkan dalam menyusun rencana usaha peternakan sapi perah yaitu:

  1. Investasi

  • Kandang

  • Gudang

  • Perumahan

  • Peralatan pemerahan

  • Peralatan teknis pemeliharaan

  1. Biaya Tetap

  • Sapi betina (Laktasi dan kering kandang)

  • Sapi jantan

  • Pedet betina

  • Pedet jantan

  1. Biaya Operasional

  • Pakan (Hijauan dan konsentrat)

  • Gaji karyawan

  • Obat-obatan

  • Penyusutan bangunan dan peralatan

  • Listrik

  • Penyusutan kematian ternak (sekitar 4-5 %)

  • Pajak

  • Biaya lain-lain.

  1. Perkembangbiakan ideal sapi perah

Sebelum memulai usaha, peternak atau pengusaha harus mengetahui perkembangbiakan sapi perah. Beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Lama kebuntingan 9 bulan

  • Masa kering kandang 2 bulan

  • Siklus birahi 21 hari

  • Lama birahi 2 sampai 3 hari

  • Umur afkir induk atau pejantan 8 sampai 9 tahun

  • Pedet betina diberikan susu sampai umur 4 bulan

  • Pedet jantan diberikan susu sampai umur 2 bulan

  • Pedet jantan dapat dijual setelah umur 1,5 sampai 2 bulan

Langkah yang perlu dilakukan setelah usaha peternakan sapi perah berjalan adalah dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana target yang direncanakan tercapai. Sehingga dapat mengambil langkah preventif sebaliknya pengembangan pada usaha peternakan sapi perah. Hal ini tentu akan membantu mengurangi ketergantungan bangsa Indonesia akan impor susu. Siapa lagi yang akan membangun Indonesia jika bukan para penerus dan generasi bangsa.

Dari berbagai sumber.

Semarang,

Selasa, 12 Mei 2009

Pukul 07.33


PENCERNAAN PAKAN PADA TERNAK RUMINANSIA

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Ternak ruminansia merupakan ternak yang efisien dalam pemanfaatan pakan. Ruminansia mampu memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah dan kandungan serat kasar tinggi. Disamping itu juga, mampu membuat protein sendiri didalam tubuh dari NPN yang dihasilkan dari sumber N pakan. Akan tetapi, ruminansia cenderung boros energy, karena sekitar 7-8% hasil metabolism berbentuk methan harus dibuang dari dalam tubuh. Kelebihan methan dapat mengakibatkan kembung atau bloat atau timpani.

Pencernaan merupakan degradasi makromolekul menjadi mikromolekul atau hidrolisis polimer menjadi monomer atau penguraian zat yang kompleks menjadi zat yang lebih sederhana. Secara garis besar, pencernaan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Pencernaan Mekanik

Pencernaan mekanik merupakan pencernaan mengubah pakan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau sederhana. Pencernaan mekanik dilakukan dimulut dengan bantuan gigi. Rumus gigi sapi adalah sebagai berikut.

0I 0C 3PM 3M

4I 0C 3PM 3M

Keterangan:

I = Incicivus

C = Caninus

PM = Pre Molar

M = Molar


Dalam pencernaan mekanik ada beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut adalah: (1) Prehension yaitu proses pengambilan pakan, misalnya ternak sapi menggunakan bantuan lidah; (2) Mastikasi yaitu proses pengunyahan pakan, dengan tujuan untuk memperkecil volume pakan; (3) Salivasi yaitu proses membasahi pakan dengan saliva; dan (4) Deglutisi yaitu proses penelanan pakan. Ternak sapi merupakan ternak memamah biak, pakan yang telah dimakan akibat dari gerakan bolus pakan maka pakan dimuntahkan kembali kemulut untuk dilakukan remastikasi, reensalivasi dan redeglutisi.

  1. Pencernaan Fermentatif

Pencernaan fermentatif merupakan pencernaan yang menghasilkan produk yang jauh berbeda dengan senyawa asal. Pencernaan ini membutuhkan bantuan atau peran dari mikroba. Contohnya adalah protein setelah mengalami fermentasi berubah menjadi ammonia.

  1. Pencernaan Hidrolitik

Pencernaan hidrolitik merupakan pencernaan untuk menguraikan senyawa yang lebih kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Pencernaan ini umumnya dibantu oleh peran enzim. Contohnya adalah protein dirubah menjadi asam amino dan lemak dirubah menjadi gliserol dan asam lemak.

Pakan ternak ruminansia khususnya hijauan mengandung serat kasar yang tinggi. Contohnya pada rumput gajah, kandungan ligninnya tinggi, akan tetapi mempunyai kandungan selulosa dan hemiselulosa yang dapat dicerna oleh ternak sapi menjadi energi. Hasil proses fermentasi selulosa akan menghasilkan Acetat (C2), Propionat (C3), Butirat (C4), H2, CO2 dan Methan (CH4). Sedangkan hemiselulosa juga akan menghasilkan acetat, propionate, butirat, CO2, format dan H2. Methan merupakan zat yang harus dibuang dari tubuh lewat eruktasi. Degradasi selulosa dipengaruhi oleh kandungan lignin dan silika dalam hijauan, lama digesta isi rumen dan berkembang serta tumbuhnya mikroba rumen.

Ternak ruminansia membutuhkan serat kasar, jika kebutuhan serat kasar pada ternak ruminansia tidak tercukupi maka akan mengakibatkan: (1) Konsumsi pakan menjadi menurun; (2) Terjadi pergeseran abomasum atau displaced abomasum; (3) Rumen mengalami luka; dan (4) Turunnya kadar lemak susu pada ternak sapi perah.

Nutrien dalam tubuh ternak ruminansia yang berperan penting bagi kelangsungan hidup ternak ruminansia adalah karbohidrat, protein dan lemak. Nutrien mengalami metabolisme didalam rumen dan terjadi pada mikroba rumen. Sedangkan metabolisme pada jaringan dan organ berfungsi untuk menghasilkan produk ternak seperti daging dan susu.

Dari berbagai sumber.

Semarang,

Rabu, 13 Mei 2009

Pukul 07.30

MENGEMBANGKAN JIWA WIRAUSAHA

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Sejak Indonesia menglami krisis multi dimensi sejak tahun 1998, yang diikuti dengan tumbangnya rezim pemerintahan orde baru dan tingginya inflasi. Hal tersebut mengakibatkan harga-harga barang kebutuhan pokok dan kebutuhan produksi menjadi tidak terkendali dan menimbulkan tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. Itu terjadi karena banyak pengusaha gulung tikar dan para perusahaan memberhentikan pekerjanya (PHK) secara besar-besaran. Pada masa itu menjadi polemik besar bagi bangsa Indonesia.

Kebangkitan baru yang dipelopori oleh para mahasiswa sebagai “agen of Change” mengantarkan bangsa Indonesia untuk mereformasi disegala bidang. Karena pada pemerintahan orde baru menurut berbagai sumber media masa baik media elektronik dan media cetak menyebutkan bahwa pemerintahan orde baru banyak terjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Sudah 11 tahun kita memasuki era reformasi, akan tetapi kita masih melihat berbagai permasalahan yang sampai saat ini masih keteteran untuk mengatasinya. Masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masih tingginya angka kemiskinan. Kemiskinan merupakan permasalahan ekonomi yang saling berkaitan dengan bidang yang lain seperti pendidikan, politik, pertahanan dan kemananan serta bidang-bidang yang lain.

Masalah kemiskinan merupakan PR besar bangsa Indonesia khususnya pada pemerintahan periode berikutnya (2009-2014). Mengapa terjadi kemiskinan?, pertanyaan tersebut umumnya dijawab karena masyarakat banyak yang menganggur, kerja serabutan, tidak memperoleh penghasilan yang layak dan sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Jika sebagian besar masyarakat Indenesia memiliki jiwa wirausaha, hal tersebut tentu akan memberikan efek lain pada masalah kemiskinan. Orang yang memiliki jiwa wirausaha merupakan orang yang memiliki potensi untuk berkembang dan berprestasi serta memiliki motivasi untuk maju dengan berbagai resiko yang dihadapi. Manusia yang memiliki jiwa wirausaha dapat kita kenali, beberapa ciri-ciri manusia wirausaha yaitu:

  1. Merupakan “Agen of Change”, seorang pencipta perubahan dengan ide-ide kreatifnya,

  2. Selalu memantau dan mengkaji setiap perubahan pada aspek kegiatan yang sedang dijalani atau kegiatan orang lain,

  3. Menggali pengetahuan dan mengembangkan pengalaman untuk memacu kreatifitas,

  4. Merupakan pakar bagi dirinya sendiri,

  5. Berani mengambil resiko, meskipun diharuskan menjadi pelayan orang lain,

  6. Cenderung mudah jenuh, sehingga selalu merumuskan hal-hal baru yang lebih menarik.

Seorang wirausaha dituntut untuk mampu dan kredibel dibidangnya, sehingga seorang wirausaha dituntut untuk memiliki keterampilan sebagai berikut:

  1. Keterampilan dalam leadership,

  2. Cepat dan tepat dalam mengambil keputusan,

  3. Selalu mempunyai ide-ide cemerlang dan kreatif,

  4. Memiliki kemampuan berorganisasi,

  5. Memiliki jaringan yang luas

  6. Pandai bergaul dengan orang lain.

Berdasarkan beberapa uraian diatas tentang wirausaha, kita jangan mengambil kesimpulan jika sikap wirausaha itu merupakan bakat keturunan, karena sikap dan jiwa wirausaha dapat dilatih. Cara melatih sikap wirausaha dapat kita lakukan dengan cara sering berinteraksi dengan orang-orang yang telah berhasil dalam usaha, meluaskan cakrawala pengetahuan dengan cara sering membaca buku-buku wirausaha dan usahakan sering bergaul dengan para wirausaha. Hal tersebut tentu akan memberikan motivasi bagi kita untuk mengembangkan jiwa wirausaha.

Setelah kita menggali motivasi wirausaha kita, sekarang saatnya menguatkan mental wirausaha. Seorang wirausaha supaya memiliki kemampuan mental wirausaha yang baik adalah:

  1. Berkemauan keras untuk maju,

  2. Memiliki kepercayaan akan kekuatan pribadi,

  3. Ulet dan tekun dalam bekerja,

  4. Memilik pemikiran yang kreatif dan membangun,

  5. Memiliki kejujuran dan tanggung jawab serta memiliki ketahanan fisik yang baik.

Jiwa wirausaha harus dilakukan dari saat ini juga, karena orang yang suka menunda-nunda bukan orang yang memiliki jiwa wirausaha. Let’s do it!.

Dari berbagai sumber.

Semarang,

Kamis, 14 Mei 2009

Pukul 07.26


AYAM BIBIT

Oleh:

Priyono, S.Pt

Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro


Ayam bibit adalah ayam yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan keturunan yang mempunyai kualitas genetik yang sama atau lebih unggul dari tetuanya. Direktorat Jenderal Peternakan (1986) menyatakan bahwa garis keturunan dalam menghasilkan final stock secara berurutan yaitu:

  1. Pure Line

  2. Great Grand Parent Stock

  3. Grand Parent Stock

  4. Parent Stock

  5. Final Stock

Final stock merupakan keturunan terakhir dari ayam bibit yang ditujukan untuk produksi, baik produksi daging maupun produksi telur.

Ayam merupakan ternak yang paling digemari oleh masyarakat untuk dibudidayakan. Tatalaksana budidaya ayam relatif mudah dan perputaran usahanya relatif singkat, karena dalam waktu 30-40 hari ayam yang dipelihara sudah dapat dipanen. Ayam yang umumnya dibudidayakan dapat dibedakan menjadi ayam niaga pedaging (umum disebut dengan ayam broiler) dan ayam niaga petelur. Ayam niaga pedaging adalah ayam final stock yang dipelihara untuk menghasilkan daging. Sedangkan ayam niaga petelur adalah ayam final stock yang dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi.

Perkawinan merupakan suatu proses untuk menghasilkan keturunan. Hal ini merupakan hal penting dan harus disiasati dengan baik. Sehingga untuk menghasilkan keturunan yang efektif, efisien serta sesuai dengan demand, maka harus dianalisa metode perkawinan yang tepat. Saat ini dikenal ada empat metode perkawinan pada ayam bibit. Keempat metode tersebut yaitu:

  1. Flock Mating

Flock mating merupakan metode perkawinan dengan menggunakan pejantan lebih dari atau sama dengan 2 ekor dan menggunakan betina lebih dari atau sama dengan 2 ekor. Metode ini umumnya digunakan oleh peternak. Karena efisien dari segi waktu, tenaga, tempat dan biaya.

  1. Pens Mating

Pens mating merupakan metode perkawinan dengan menggunakan 1 ekor pejantan untuk betina sama dengan atau lebih dari 2 ekor. Metode ini cenderung menghasilkan fertilitas yang rendah.

  1. Stud Mating

Stud mating merupakan metode perkawinan dengan menggunakan 1 ekor pejantan dan 1 ekor betina.

  1. Artificial Insemination (AI)/Inseminasi Buatan (IB)

Artificial Insemination merupakan metode perkawinan dengan cara menyemprotkan sperma melalui saluran reproduksi. Pada ayam AI tidak seefisien pada sapi, oleh karena itu banyak yang tidak menerapakan metode perkawinan ini pada ayam.

Ayam niaga merupakan ayam yang menghasilkan keuntungan yang besar, jika benar dan berhasil dalam pengelolaannya. Kualitas ayam niaga mulai dari umur satu hari (Day Old Chick/DOC) sampai dipanen dan dipasarkan ditentukan oleh bangsa ayam bibit/ayam pembentuk ayam niaga. Bangsa-bangsa ayam pembentuk niaga yang sudah sering dikenal yaitu:

  1. Australop

  2. Brahma

  3. Cornish

  4. Leghorn

  5. New Hampshire

  6. Plymouth Rock

  7. Rhode Island Red

  8. Sussex.

Perkandangan dalam memelihara ayam bibit harus benar-benar diperhatikan, karena akan menentukan kualitas dari ayam niaga yang dihasilkan. Tipe perkandangan dapat dibagi menjadi kandang terbuka (Open House) dan kandang tertutup (Close House). Kandang terbuka dibuat dialam terbuka, sehingga suhu, kelembaban dan faktor klimat lain tidak bias dikendalikan. Untuk standar ukuran kandang pada kandang terbuka sebaiknya lebarnya maksimal 7 meter dan panjangnya dapat mencapai 72 meter. Sedangkan kandang tertutup merupakan kandang yang dibuat secara tertutup dan diatur suhu dan kelembabannya sesuai dengan kebutuhan ayam. Ukuran kandang tertutup dapat dibuat dengan lebar 7 sampai 16 meter dan panjangnya dapat dibuat lebih dari 72 meter dan tidak melebihi 140 meter.

Dari berbagai sumber.

Semarang,

Selasa, 19 Mei 2009

Pukul 06.51


Saturday, May 9, 2009

RUMEN PADA TERNAK RUMINANSIA

Oleh:

Priyono, S.Pt


Rumen merupakan bagian saluran pencernaan vital pada ternak ruminansia. Pada rumen terjadi pencernaan secara fermentatif dan pencernaan secara hidrolitik. Pencernaan fermentatif membutuhkan bantuan mikroba dalam mencerna pakan terutama pakan dengan kandungan selulase dan hemiselulase yang tinggi. Sedangkan pencernaan hidrokitik membutuhkan bantuan enzim dalam mencerna pakan. Ternak ruminansia besar seperti sapi potong dan sapi perah dapat memanfaatkan pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat rendah, akan tetapi boros dalam penggunaan energi.

Rumen pada ternak ruminansia dapat dibagi menjadi empat yaitu:

  1. Retikulum

Retikulum sering disebut sebagai perut jalang atau hardware stomach. Fungsi retikulum adalah sebagai penahan partikel pakan pada saat regurgitasi rumen. Retikulum berbatasan langsung dengan rumen, akan tetapi diantara keduanya tidak ada dinding penyekat. Pembatas diantara retikulum dan rumen yaitu hanya berupa lipatan, sehingga partikel pakan menjadi tercampur.

  1. Rumen

Rumen pada sapi dewasa merupakan bagian yang mempunyai proporsi yang tinggi dibandingkan dengan proporsi bagian lainnya. Rumen terletak di rongga abdominal bagian kiri. Rumen sering disebut juga dengan perut beludru. Hal tersebut dikarenakan pada permukaan rumen terdapat papilla dan papillae. Sedangkan substrat pakan yang dimakan akan mengendap dibagian ventral. Pada retikulum dan rumen terjadi pencernaan secara fermentatif, karena pada bagian tersebut terdapat bermilyaran mikroba.

  1. Omasum

Omasum sering juga disebut dengan perut buku, karena permukaannya berbuku-buku. Ph omasum berkisar antara 5,2 sampai 6,5. Antara omasum dan abomasums terdapat lubang yang disebut omaso abomasal orifice.

  1. Abomasum

Abomasum sering juga disebut dengan perut sejati. Fungsi omaso abomasal orifice adalah untuk mencegah digesta yang ada di abomasum kembali ke omasum. Ph pada abomasum asam yaitu berkisar antara 2 sampai 4,1. Abomasum terletak dibagian kanan bawah dan jika kondisi tiba-tiba menjadi sangat asam, maka abomasum dapat berpindah kesebelah kiri. Permukaan abomasum dilapisi oleh mukosa dan mukosa ini berfungsi untuk melindungi dinding sel tercerna oleh enzim yang dihasilkan oleh abomasum. Sel-sel mukosa menghasilkan pepsinogen dan sel parietal menghasilkan HCl. Pepsinogen bereaksi dengan HCl membentuk pepsin. Pada saat terbentuk pepsin reaksi terus berjalan secara otokatalitik.

Dari berbagai sumber.

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

Oleh:

Priyono, S.Pt


Penelitian merupakan suatu kegiatan yang menggunakan bantuan data untuk dianalisis, sehingga dapat ditarik kesimpulan. Dalam hal ini, data merupakan instrumen yang vital dalam penelitian. Data merupakan hasil catatan tentang penelitian. Data juga dapat didefinisikan sebagai informasi yang berakaitan dengan keadaan, keterangan dan atau suatu hal. Sedangkan statistic merupakan cara untuk mengolah data sehingga dapat memberikan informasi.

Data menurut sumbernya dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian.

  1. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya.

Data menurut jenisnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berwujud angka-angka, biasa diolah dengan teknik statistik, dan bersifat objektif. Misalnya: Data produksi susu, PBBh, IPK dan lain-lain.

  1. Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk angka, umumnya berbentuk data verbal atau kategorisasi, bersifat lebih subjektif dan dapat diangkakan dalam bentuk ranking untuk data dengan skala ordinal. Misalnya: Sebagian mahasiswa merasa senang beternak dan yang lain tidak senang, sapi itu besar, ayam itu kecil dan lain-lain.

Jenis skala pengukuran data dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

  1. Nominal

Nilai variabel hanya membedakan satu kategori dengan kategori lainnya. Contoh: bermacam-macam jenis pekerjaan hanya dibedakan kategorinya saja, tapi tidak membedakan bahwa pekerjaan satu lebih baik dari pekerjaan yang lainnya.

  1. Ordinal

Skala didasarkan pada ranking dan membedakan bahwa pada data tersebut ada perbedaan dan tingkatan. Contoh: Tingkat pendidikan diranking dari pendidikan tertinggi sampai ke yang terendah atau sebaliknya.

  1. Interval

Data yang mempunyai ciri-ciri skala ordinal, tapi jaraknya dapat diketahui. Contoh: Variabel umur diketahui nilai dan jarak datanya.

  1. Ratio

Data mempunyai skala ordinal, tapi digunakan untuk mengukur jarak dan bobot. Contoh: Bobot badan ayah tiga kali bobot badan anaknya.

Proses pengumpulan data harus memperhatikan pedoman pengumpulan data. Hal tersebut dilakukan supaya data yang digunakan dalam penelitian valid, reliabel dan dapat diterima sesuai dengan kaidah keilmuan. Pedoman dalam pengumpulan data yaitu:

  1. Pengumpulan data harus memperhatikan kejelasan konsep dan variabel yang akan digunakan,

  2. Data harus distandarisasi,

  3. Data yang dikumpulkan harus objektif dan dapat dipertanggungjawabkan

  4. Data harus sesuai dengan relevansi unit atau satuan pengamatan.

Dari berbagai sumber.

Sunday, May 3, 2009

PERFORMANCE AYAM NIAGA PEDAGING YANG RENDAH ATAU TIDAK MEMENUHI STANDAR

Oleh:

Priyono, Devi Rosdiani, Jaenal Abidin, Sakti Arifianudin, Apriyanti Utami, Novi Harsum dan Bambang Riyanto.

Universitas Jenderal Soedirman


I. PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang

Unggas dapat bertelur dan memiliki daging yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Unggas dapat dibedakan melalui ukuran tubuh dan jumlah daging maupun telur yang dihasilkan. Salah satu unggas yang saat ini berkembang pesat dan banyak dikembangkan oleh para peternak adalah ayam niaga pedaging. Ayam pedaging ini dikenal dimasyarakat dengan nama ayam broiler. Ayam broiler merupakan ayam jantan dan betina muda yang berumur dibawah 8 minggu ketika dijual dengan bobot tubuh tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat serta mempunyai dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak.

Peternakan ayam broiler di Indonesia mulai banyak dikembangkan sejak tahun 1980. Kurun waktu 1980 sampai 1990 merupakan periode waktu dimana perkembangan peternakan ayam broiler banyak mengalami pasang surut. Tapi sampai saat ini banyak peternak ayam broiler yang masih bertahan dan bahkan dapat sukses beternak ayam broiler. Masa produksi ayam broiler yang hanya enam minggu membuat banyak pihak tertarik akan bisnis ayam broiler. Berbagai kendala dan hambatan tidak membuat peternakan ayam broiler surut. Hal ini didukung dengan adanya kebijakan baru pada tahun 1991 yang membuat peternakan ayam broiler semakin berkembang pesat sederajat dengan bisnis pada bidang kehidupan lainnya.

Bisnis peternakan ayam broiler dapat berkembang pesat jika peternakan yang bersangkutan mempunyai manajemen yang baik. Manajemen tersebut dapat berupa manajemen pemeliharaan, manajemen pakan, kandang, kesehatan ternak dan hal lain yang dapat meningkatkan produksi ayam niaga pedaging. Peternak menginginkan produksi daging tinggi dan dapat menekan biaya pakan dan biaya operasional. Sehingga keberlangsungan usaha peternakan ayam broiler dapat berkembang dengan pesat.

Ayam broiler yang dapat meningkatkan keuntungan adalah ayam yang mempunyai bobot tinggi dan sehat. Ayam broiler yang mempunyai bobot tinggi dan sehat akan mempunyai performans yang baik. Hal ini dapat dilihat dari bentuk tubuh, ukuran tubuh, kelincahan, dan tidak menunjukkan gejala yang abnormal. Tapi, kadang harapan petani tidak sepenuhnya dapat tercapai. Banyak terdapat ayam yang mempunyai performans tidak sesuai harapan peternak. Hal tersebut menunjukkan bahwa produktifitas ayam broiler tidak maksimal, sehingga peternak harus mampu mengendalikan munculnya performans ayam broiler yang rendah atau tidak memenuhi standar.

1. 2. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah:

  1. Mengetahui dan mengumpulkan data-data tentang performans ayam broiler yang rendah dan tidak memenuhi standar,

  2. Menganalisis data yang terkumpul untuk dicari penyebab permasalahan dan inti dari permasalahan yang terjadi,

  3. Menganalisis masalah dan menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk memecahkan masalah performans ayam pedaging yang rendah atau tidak memenuhi standar,

II. PERMASALAHAN

Peternakan ayam broiler dapat berkembang maju apabila produktifitas ayam yang bersangkutan tinggi. Pencapaian produktifitas ayam broiler yang tinggi banyak menemui kendala dan hambatan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah adanya performans ayam broiler yang rendah dan tidak memenuhi standar. Permasalahan yang sering muncul diantaranya adalah:

  1. Bobot ayam pedaging pada saat akan dipanen, bobotnya kurang dari standar bobot yang ditetapkan dari produsen DOC yang bersangkutan,

  2. Lemak pada daging terlalu banyak, ayam terlalu gemuk akibat banyaknya lemak, sehingga harga ayam broiler rendah,

  3. Ayam terlalu kurus dan bentuk tubuhnya kecil,

  4. Anak ayam akan merendek dengan kepala tertarik keatas, menengadah keatas dan seperti tertarik tali, serta pertumbuhan yang lambat akibat kekurangan thiamin,

  5. Terdapat gejala ricketsia, yaitu pertumbuhan terhambat, walaupun protein dan asam amino tercukupi dan tidak ada koordinasi antara otot,

  6. Daya tahan tubuh ayam lemah, sehingga mudah terserangpenyakit,

  7. Kondisi ayam broiler kurang lincah dan kadang malas berdiri,

  8. Hilangnya selera makan ayam broiler dan kadang terdapat keabnormalan pada ayam broiler.

Permasalahan-permasalahan tersebut sering muncul dalam suatu periode pemeliharaan ayam broiler, sehingga membutuhkan pemecahan masalah. Salah satu penyebab yang menjadi inti permasalahan adalah dari factor bibit dan manajemen pemeliharaan ayam broiler. Selain itu, manajemen pakan, kandang, sanitasi juga factor yang menjadi penyebab permasalahan rendahnya performans ayam pedaging, sehingga tidak memenuhi standar.

III. PEMECAHAN MASALAH

3. 1. Bibit Ayam Broiler

  1. Pertumbuhan ayam

Ada bibit ayam broiler yang pada masa awalnya tumbuh dengan cepat, sedangkan di masa akhir biasa-biasa saja, atau kebalikannya. Hal ini tentunya tergantung pada orang tua atau lembaga yang membentuk ayam itu. Pertumbuhan yang cepat di masa awal memang baik untuk kondisi di Indonesia yang memasarkan ayam di usia 5-6 mingu. Pertumbuhan yang cepat ini sangat m,embantu manajemen peternakan dalam mencapai sasaran yang telah direncanakan. Apabila pertumbuhanya yang cepat terjadi di masa akhir, harus diperhatikan waktu pemasaran ayam itu.

Pertumbuhan yang cepat itu belum tentu ditunjang dengan sisi lain yang membaik pula. Sebagai contoh, konsumsi ransum ayam menjadi lebih babyak. Akhirnya hal ini akan berdampak terhadap konversi ransum dan biaya produksi. Mungkin juga terjadi mortalitas di masa awal lebih tinggi atau penumpukan lemak tubuh di masa akhir menjadi lebih banyak (Rasyaf, 1995).

  1. Konsumsi ransum

Rasyaf (1994) menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat adakalanya didukung dengan konsumsi ransum yang banyak pula. Bila ransum diberikan tidak terbtas atau ad libitum, ayam akan makan sepuasnya hingga kenyang. Setiap bibit ayam sudah ditentukan konsumsi ransumnya pada batas tertentu sehingga kemampuan prima ayam akan muncul. Konsumsi itulah yang disebut konsumsi standar atau baku, sesuai dengan arah pembentukan bibit itu.

  1. Konversi ransum

Konversi ransum selalu diperbaiki oleh banyak pembibit dari masa ke masa. Walaupun dalam kurun waktu yang panjang, tetapi hal ini terus menerus diperbaiki oleh pembibit karena konversi ini melibatkan pertumbuhan ayam dan konsumsi ransum. Harapan yang dikehendaki peternak adalah pertumbuhan yang relatif cepat dengan makanan yang lebih sedikit, maksudnya jumlah ransum yang digunakan ayam mampu menunjang pertumbuhan yang cepat. Hal ini mencerminkan efisiensi penggunaan pakan yang baik (Rasyaf, 1988).

Bila memperhatikan sudut konversi, sebaiknya dipilih angka konversi yang terendah. Akan tetapi, angka itu berbeda dari masa awal ke masa akhir pertumbuhan ayam menjadi lambat atau mulai menurun setalah usia 4 minggu, sedangkan ransumnya bertambah terus.

3. 2. Faktor Pendukung Pertumbuhan Ayam Broiler

Sastroamidjojo (1971) menyatakan bahwa keunggulan ayam broiler akan terbentuk bila didukung oleh lingkungan karena sifat genetis saja tidak menjamin keunggulan itu akan terlihat. Hal-hal yang mendukung keunggulan ayam broiler seperti berikut ini.

  1. makanan

Makanan menyangkut kualitas dan kuantitasnya. Pertumbuhan yang sangat cepat tidak akan tampak bila tidak didukung dengan ransum yang mengandung protein dan asam amino yang seimbang sesuai kebutuhan ayam. Ransum juga harus memenuhi syarat kuantitas karena jumlah ransum yang dimakan bertalian dengan jumlah unsur nutrisi yang harus masauk sempurna kedalam tubuh ayam.

  1. temperatur lingkungan

Ayam broiler akan tumbuh optimal pada temperatur lingkungan 19-21 C. temperatur lingkungan Indonesia lebih panas apalagi daerah pantai, sehingga ayam akan mengurangi beban panas dengan banyak minum dan tidak makan. Bila sudah demikian, sejumlah unsur nutrisi dan keperluan nutrisi utama bagi ayam tidak masuk, sehingga kehebatan ayam tidak tampak. Jadi, temperatur ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap kemampuan ayam broiler.

  1. pemeliharaan

Bibit yang baik membutuhkan pemeliharaan yang baik pula. Perawatan ini termasuk vaksinasi yang baik dan benar. Seringkali peternak melakukan vaksinasi tidak benar atau vaksinnya telah mati. Akibatnya ayam terserang ND. Ayam broiler umumnya dipelihara dalam waktu 5-6 minggu dengan bobot tubuh antara 1,4-1,6 kg per ekor. Akan tetapi kini ayam broiler dengan bobot lebih dari itu juga diterima konsumen, misalnya bobot tubuh antara 1,8-2 kg per ekor. Ayam seberat ini memerlukan pemeliharaan antara 6-7 minggu.

3. 3. Pemilihan DOC

Beberapa pedoman untuk memilih DOC :

  1. Anak ayam berasal dari induk yang sehat agr tidak membawa penyakit bawaan.

  2. Ukuran atau bobot ayam itu. Apabila ukuran atau bobot anak ayamrelatif kecil maka sumber penyebabnya adalah telur tetas ayam itu. Telur tetas yang besar akan menghasilkan anak ayam yang besar, begitu pula sebaliknya.

  3. Anak ayam itu memperlihatkan mata yang cerah dan bercahaya, aktif serta tampak tegar.

  4. Anak ayam tidak memperlihatkan cacat fisik, kaki bengkok, mata buta atau kelainan fisik lainnya yang mudah dilihat. Bulunya halus dan kering.

  5. Tidak ada lekatan tinja di duburnya.

  6. Anak ayam harus sudah divaksin (Rasyaf, 1995).

3. 4. Standar Produksi

Sastroamidjojo (1971) menyatakan bahwa standar produksi bagi ayam broiler atau ayam pedagng muda ini bertumpu pada pertambahan berat badan, konsumsi ransum dan konversi ransum.

  1. pertambahan berat badan

pertambahn berat badan selalu berkaitan dengan perubahan yang tidak selalu positif. Sudah tentu yang namnya standar produksi adalah pertambahan positif (dalam jangka waktu tertentu) kemudian diiringi dengan berat badan.

  1. konsumsi ransum

konsumsi ransum merupakan masalah bagi peternakan ayam. Peternak maupun pembibit selalu berusaha memenuhi keinginan agar aym makan sedikit, tetapi pertambahan berat badannya lebih besar dari pertambahan konsumsi ransumnya.

  1. konversi ransum

konversi ransum merupakan pembagian antara berat badan yang dicapai pada minggu itu dengan konsumsi ransum pada minggu itu pula. Bila rasio itu kecil berarti pertambahan berat badan memuaskan peternak atau ayamnya tidak banyak makan.

3. 5. Pemberian Ransum

Ransum ayam broler di Indonesia kebanyakan dibagi atas dua bentuk sesuai denagn masa pemeliharaannya, yaitu ransum untuk ayam broiler masa awal (ransum starter) dan ransum untuk ayam broiler masa akhir (ransum finisher). Kedua ransum itu tampaknya sama, tetapi kandungan gizinya berbeda. Anak ayam yang berumur kurang dari 4 minggu diberi ransum masa awal, sedangkan bila beruumur 4 minggu lebih diberi ransum masa akhir (Rasyaf, 1995).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4. 1. Kesimpulan

  1. Performans ayam pedaging yang rendah dan tidak memenuhi standar dapat menurunkan harga ayam,

  2. Ayam broiler yang performansnya rendah mengakibatkan kekebalan terhadap penyakit rendah, sehingga memungkinkan ayam mudah terserang penyakit,

  3. Penyebab inti permasalahan performans ayam broiler yang rendah diakibatkan oleh asal bibit dan manajemen pemeliharaan,

  4. Sarana dan prasarana yang kurang dapat menyebabkan performans ayam broiler rendah,

  5. Pemecahan masalah untuk ayam broiler yang performansnya rendah dan tidak memenuhi standar adalah dengan pemilihan bibit yang baik, pemilihan DOC yang baik, mengetahui pertumbuhan dan standar produksi serta pemberian ransum.

4. 2. Saran

Semoga dengan dibuatnya makalah ini, permasalahan performans ayam pedaging yang rendah dan tidak memenuhi standar dapat dipecahkan dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan peternak dalam pengembangan peternakan ayam broiler.

DAFTAR PUSTAKA

Rasyaf. 1988. Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya: Jakarta.

Rasyaf. 1994. Makanan Ayam Broiler. Kanisius: Yogyakarta.

Rasyaf. 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Ayam Pedaging. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Sastroamidjojo, Seno. 1971. Ilmu Beternak Ayam. Masa Baru: Jakarta.

HUBUNGAN ANTARA PRODUKSI DAN CURAHAN JAM KERJA DAN UPAH

Oleh:

Priyono, Juliansyah, Fisca, Lina, Erwin, Fatmawati, Mumung, Arita, Khamid, Dwi, Alif, Trio dan Dani

Universitas Jenderal Soedirman


I. PENDAHULUAN


1. 1. Latar Belakang

Ayam niaga pedaging merupakan ayam final stock yang khusus dikembangkan untuk menghasilkan daging. Lama pemeliharaan yang diperlukan untuk produksi daging relatif singkat dan bobot daging yang dihasilkan cukup tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha ayam niaga pedaging potensial untuk dikembangkan.

Kabupaten Banyumas saat ini sudah mulai mengembangkan usaha peternakan di berbagai kecamatan, salah satunya adalah usaha peternakan ayam niaga pedaging. Usaha peternakan rakyat ayam niaga pedaging dapat ditemukan di Kecamatan Sumbang. Kecamatan Sumbang sudah mengembangkan usaha peternakan ayam niaga pedaging, walaupun masih dalam skala kecil.

Pengembangan usaha peternakan ayam niaga pedaging sebagian besar dipengaruhi oleh segitiga produksi yaitu feeding, breeding dan management. Akan tetapi produksi ayam niaga pedaging juga ditentukan oleh faktor lain selain segitiga produksi. Curahan jam kerja dan upah merupakan faktor produksi yang diduga mempunyai hubungan terhadap produksi. Kedua faktor produksi tersebut dapat diketahui hubungannya dengan cara dilakukan survei terlebih dahulu terhadap peternak ayam niaga pedaging di Kecamatan Sumbang. Survei merupakan cara yang paling efektif untuk mengetahui jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dan upah yang dibutuhkan untuk membayar tenaga kerja.

1. 2. Perumusan Masalah

Produksi merupakan indicator bahwa suatu usaha dapat dilaksanakan. Produksi mempunyai hubungan dengan faktor produksi, salah satunya adalah jumlah tenaga kerja dan upah. Jumlah tenaga kerja di konversikan menjadi JKSP (Jam Kerja Setara Pria) dan upah tenaga kerja dalam bentuk Rp. (rupiah). Oleh karena itu, perlu diketahui seberapa erat hubungan antara produksi dengan faktor produksi yang terdiri dari jumlah tenaga kerja dan upah.

1. 3. Tujuan

  1. Mengetahui hubungan faktor produksi jumlah tenaga kerja dengan produksi ayam niaga pedaging

  2. Mengetahui hubungan faktor produksi upah tenaga kerja dengan produksi ayam niaga pedaging.

1. 4. Manfaat

  1. Memberikan informasi kepada peternak, masyarakat dan pemerintah tentang hubungan faktor produksi jumlah tenaga kerja dengan produksi ayam niaga pedaging

  2. Memberikan informasi kepada peternak, masyarakat dan pemerintah tentang hubungan faktor produksi upah tenaga kerja dengan produksi ayam niaga pedaging

II. PEMBAHASAN

2.1. Analisis Korelasi

Analisis korelasi merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara produksi dan faktor produksi. Keeratan hubungan dapat dilihat dari angka koefisien korelasi (r). Koefisien korelasi adalah suatu bilangan yang menunjukkan kuat tidaknya atau besar kecilnya hubungan dua variabel. Koefisien ini tidak dapat dipakai untuk menentukan variabel yang mempengaruhi variabel pasangannya. Saat ini untuk mengetahui hubungan antara faktor produksi dengan produksi dapat melakukan analisis data menggunakan software komputer program Microsoft Excel dan SPSS (Statistic Program for Social Science).

Jumlah responden peternak ayam niaga pedaging di Kecamatan Sumbang adalah 53 orang. Faktor produksi jumlah tenaga kerja dalam bentuk jumlah tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja dikonversikan menjadi TKSP (Tenaga Kerja Setara Pria). Konversi kedalam TKSP yaitu:

Laki-laki dewasa : 1 TKSP

Wanita dewasa : 0,7 TKSP

Anak-anak : 0,5 TKSP

Hasil konversi TKSP dikonversikan lagi dalam JKSP. Satu TKSP dalam satu hari kerja adalah selama tujuh jam, sehingga dapat diketahui jumlah tenaga kerja yang dikonversikan menjadi JKSP dalam satu periode pemeliharaan. Upah tenaga kerja dihitung dalam jumlah rupiah yang dikeluarkan selama satu periode pemeliharaan. Data setelah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Excel dan SPSS dengan analisis korelasi. Hasil analisis data dapat dilihat pada Lampiran 1.

Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara produksi yang dihasilkan dengan curahan jam kerja dan upah tenaga kerja sebesar 76,7 %. Sedangkan 23,3 % produksi mempunyai hubungan dengan faktor lain. Soekartawi (1981) menyatakan bahwa koefisien korelasi (r) adalah suatu bilangan yang menunjukkan kuat tidaknya hubungan suatu variabel. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa produksi mempunyai keeratan 76,7 % dengan curahan jam kerja dan upah tenaga kerja.

2.2. Analisis Regresi

Analisis regreasi merupakan analisis yang digunakan untuk melihat hubungan dua atau lebih variabel sebab akibat (pengaruh). Pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dapat ditunjukkan dengan koefisien regresi yang diperoleh dari hasil analisis regresi. Uji validitas dari garis penduga digunakan besaran F yang berasal dari Anova (Analysis of Variance). Anderson et al., (1973) menyatakan bahwa persamaan garis regresi dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = f (X1, X2, ...,Xn)

Keterangan:

Y = Variabel yang dijelaskan (depenent variable)

X = variabel yang menjelaskan (independent variable).

Koefisien determinasi (r²) dipakai untuk menunjukkan seberapa jauh variasi variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen. Beberapa variabel bebas yang digunakan untuk menentukan pengaruh terhadap variabel terikat (Produksi (kg)) adalah curahan jam kerja (JKSP) dan upah (Rp). Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa curahan jam kerja dan upah mempengaruhi produksi sebesar 58,8 %, sedangkan 41,2 % dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel bebas di atas. Uji F menunjukkan bahwa curahan jam kerja (JKSP) dan upah tenaga kerja (Rp) berpengaruh sangat nyata (P < 0,01) terhadap produksi.

2.3. Analisis Cobb Douglass

Fungsi Cobb Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dau atau lebih variabel, dimana variabel 1 disebut dengan variabel dependen (Y) dan variabel yang lain disebut variabel independen (X). Penyelesaian hubungan Y dan X dapat digunakan dengan cara regresi, yaitu variasi dari Y akan dipenagruhi oleh variasi dari X. Kaidah-kaidah pada garis regresi dapat berlaku dalam penyelesaian fungsi Cobb Douglas (Soekartawi, 1990).

Pendugaan terhadap persamaan fungsi Cobb Douglas dapat dilakukan dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut. Persamaaan dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = f (X1, X2)

Y = aX1b1X2b2eu

Logaritma dari persamaan diatas adalah:

Log Y = log a + b1 log X1 + b2 log X2 + v

Y* = a* + b1 X1* + b2 X2* + v*

Keterangan:

Y * = log Y

X* = log X

V* = log v

a* = log a.

Fungsi Cobb Douglas lebih sering digunakan oleh para peneliti dalam menganalisis data. Tiga alasan pokok fungsi Cobb Douglas sering dipakai oleh para peneliti adalah:

  1. Penyelesaian fungsi Cobb Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi yang lain, seperti fungsi kuadratik,

  2. Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang menunjukkan besaran elastisitas,

  3. Besaran elastisitas menunjukkan tingkat besaran returns to scale (Soekartawi, 1990).

III. KESIMPULAN DAN SARAN

3. 1. Kesimpulan

  1. Terdapat hubungan antara produksi yang dihasilkan dengan curahan jam kerja dan upah tenaga kerja sebesar 76,7 %.

  2. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa curahan jam kerja dan upah mempengaruhi produksi sebesar 58,8 %, sedangkan 41,2 % dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel bebas.

3. 2. Saran

Usaha peternakan ayam niaga pedagng sebaiknya memperhatikan curahan jam kerja dan upah tenaga kerja, karena mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap produksi daging ayam niaga pedaging.

DAFTAR PUSTAKA


Anderson, J.R. dan N.S. Jodha (1973), On Cobb-Douglas and Related Myths, Economic and Political Weekly 8 (26).

Soekartawi. (1981). Pendugaan dengan Menggunakan Fungsi Cobb-Douglas: Sebuah Tinjauan, Ekonomi Keuangan Indonesia 30 (1).

Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi Dengan Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Rajawali Pers. Jakarta.




KENAPA UANG NETRAL

Oleh:

Priyono, S.Pt

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak UNDIP 2008/2009


Uang bersifat "netral" artinya bahwa jumlah uang beredar tidak berpengaruh terhadap pendapatan domestik bruto. Uang lebih berpengaruh terhadap variabel nominal, seperti harga dan kurs. Penambahan jumlah uang beredar hanya akan menyebabkan depresiasi kurs dan naiknya inflasi. Sementara itu aktivitas sektor riil tidak dipengaruhi sama sekali.

Dalam literatur ekonomi, hipotesis tentang netralitas uang (money neutrality) lebih banyak digaungkan oleh ekonom dari aliran klasik. Walaupun aliran klasik tetap bersikukuh bahwa hipotesis ini berlaku baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, terdapat konsensus di antara semua aliran ekonomi bahwa money neutrality adalah fenomena jangka panjang. Dalam hipotesis ini disebutkan bahwa karena penyesuaian harga bisa dilakukan secara instan, maka perubahan jumlah uang beredar hanya akan mengakibatkan perubahan harga dan tidak akan diterjemahkan sebagai perubahan dalam jumlah barang yang diproduksi. Implikasinya adalah ketika terjadi resesi atau krisis ekonomi, kenaikan jumlah uang beredar tidak bisa dipakai sebagai instrumen untuk mempercepat pemulihan ekonomi karena yang akan tercipta hanyalah kenaikan harga.

Ada tiga hal yang menyebabkan hasil kajian tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Pertama adalah hasil kajian INDEF mengenai fenomena kekakuan suku bunga (interest rate rigidity). Kedua adalah kenyataan bahwa sekarang masih terjadi ekses likuiditas di perbankan. Ketiga adalah hasil kajian Bank Indonesia tentang credit crunch atau kegagalan bank dalam menyalurkan kredit. Ketiga hal tersebut berkaitan erat satu dengan yang lainnya.

Dalam kondisi sekarang, naik turunnya suku bunga SBI bisa jadi mencerminkan kebijakan moneter yang ditempuh oleh BI. Tapi hal ini tidak serta-merta memengaruhi investasi karena ada masalah interest rate rigidity dan credit crunch. Kelangkaan kredit dan lemahnya investasi jelas tidak bisa diselesaikan oleh kebijakan moneter, baik melalui suku bunga maupun jumlah uang beredar.

Oleh karena itu, kebijakan moneter memang tampaknya tidak bisa diharapkan dalam melakukan stabilisasi keluaran (output) baik melalui kebijakan ekspansioner (stimulus) maupun kontraksioner (anti-stimulus). Tampaknya, lingkup kebijakan moneter di masa yang akan datang harus lebih fokus lagi yaitu hanya sebatas stabilisasi variabel nominal saja, seperti harga dan kurs. Untuk itu, yang paling dipentingkan adalah disiplin moneter, yaitu suatu pengendalian jumlah uang beredar sesuai dengan target inflasi dan kurs. Untuk mencapai ini pun, tugas yang dipikul BI sudah cukup berat karena inflasi dan kurs tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter tetapi juga kebijakan fiskal dan sentimen pasar.


Cari Artikel Lain, Ketik Kata Kuncinya disini

Mesin Pencari Ilmu Peternakan Dot Com

Loading...

ILMU PETERNAKAN

Top Post

SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Ilmu Peternakan Dot Com. Situs ini di didirikan oleh Priyono, S.Pt, M.Si sejak tanggal 1 November 2008. Ilmu Peternakan Dot Com didirikan dengan tujuan untuk mewadahi semua hal yang berkaitan dengan bidang peternakan. Ilmu Peternakan Dot Com umumnya berisi hasil pemikiran, ilmu, informasi yang penulis persembahkan kepada semua masyarakat khususnya di Indonesia. Tujuan utamanya adalah sebagai sharing, bahan pembelajaran dan pengabdian ilmu pengetahuan kepada masyarakat. (Owner dan Founder Ilmu Peternakan Dot Com: Priyono, S.Pt, M.Si)



Berapa lama alumni peternakan dari lulus sampai memperoleh pekerjaan?ar

Photo Collection

Loading...

Statistic Graph

Visitor Counter

free counters

Latest Visitor

YM Online

Join Us

Share It...,,

Share |

Send Us Your Feedback


"Dari berbagai sumber" atau "Pustaka" pada beberapa tulisan di Situs ini yang mengutip dari sumber lain dicantumkan nama pengarang dan tahunnya (didalam naskah tulisan), sedangkan yang tidak dicantumkan merupakan pengalaman dan pengetahuan dari penulis. Bagi anda yang akan memberikan kritik dan saran dapat menghubungi saya lewat alamat email: priyono.spt@gmail.com
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)

Donate your Article


"Situs ILMU PETERNAKAN merupakan pusatnya dunia peternakan. Bagi siapa saja yang peduli akan potensi peternakan. diharapkan dapat menyumbangkan artikel, jurnal, atau lainnya untuk dapat dipublikasikan di situs ini lewat Email: priyono.spt@gmail.com. Jangan lupa disertakan CV singkat anda. Terimakasih."
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)
 

Copyright © 2009 by ILMU PETERNAKAN