Tuesday, October 20, 2009

Latar Belakang Pembentukan Kandang Komunal pada Kelompok Tani Ternak Sapi Potong

Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email: priyono.spt@gmail.com



Pembangunan peternakan saat ini masih didominasi oleh usaha peternakan rakyat yang pemeliharaannya sebagian besar masih bersifat tradisional. Disamping itu juga kepemilikan modal usaha ternak terbatas, akses pasar terbatas dan tingkat penguasaan teknologi masih rendah. Kondisi tersebut merupakan tantangan dan sekaligus sebagai kendala yang dihadapi peternak dalam menghadapi keadaan ekonomi global.


Salah satu teknologi dan inovasi dibidang peternakan yang digalakkan oleh pemerintah adalah Panca Usaha Ternak Sapi Potong dalam upaya untuk mencapai swasembada daging 2010. Penyebarluasan inovasi ini kepada peternak memerlukan peranan penyuluh. Oleh karena itu, kuota jumlah penyuluh perlu ditambah sesuai dengan kebutuhan petani peternak.


Peternak sapi potong pada beberapa daerah sebagian besar masih menerapkan peternakan sapi penggemukan. Jenis sapi yang digemukkan umumnya Simmental, Peranakan Ongole dan sebagian PFH. Saat ini, produktivitas ternak sapi penggemukan belum mencapai titik optimal. Hal tersebut dikarenakan sistem pemeliharaannya masih tradisional, terutama dalam hal tata cara perkandangan. Dengan tata cara perkandangan yang baik, ternak akan merasa lebih nyaman, kesehatan ternak juga lebih terjamin, sehingga produktivitas ternak dapat dimaksimalkan. Kandang selain untuk melindungi ternak dari gangguan angin kencang, panas terik dan hujan, juga untuk menjamin agar ternak tetap sehat, mengurangi angka kematian, memberikan rasa nyaman bagi ternak serta memudahkan dalam pengelolaan sehingga produksinya dapat optimal.


Skala usaha ternak sapi potong yang kecil dan sebagai usaha sampingan merupakan beberapa akibat masih rendahnya kemampuan petani peternak dalam mengorganisir usaha ternak. Kelompok merupakan media yang menjembatani antar peternak dalam berkomunikasi, bertukar teknologi dan mengorganisir usaha ternak. Oleh karena itu dibutuhkan adanya pembentukan kelompok ternak untuk membantu mengorganisir kebutuhan peternak dalam mencapai tujuan.


Departemen Pertanian (1986) member batasan bahwa kelompok tani adalah sekumpulan orang-orang tani atau petani, yang terdiri atas petani dewasa pria atau wanita maupun petani taruna atau pemuda tani yang terikat secara informal dalam suatu wilayah kelompok atas dasar keserasian dan kebutuhan bersama serta berada di lingkungan pengaruh dan pimpinan seorang kontak tani.


Manfaat yang dapat diambil dari pembentukan kelompok tani ternak yaitu semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok, semakin terarahnya peningkatan secara tepat tentang jiwa kerja sama antar sesama petani peternak, semakin cepatnya proses penerapan inovasi baru, semakin mudahnya pemberian bantuan, semakin meningkatnya kemampuan peternak dalam mengelola usaha ternaknya baik pemeliharaan ternak maupun produknya dan memudahkan pembinaan dari lembaga pemerintah maupun swasta.


Melihat dari manfaat dan pentingnya kelompok, terbuka peluang bahwa peternak selalu menyelenggarakan pertemuan rutin. Pertemuan rutin ini dapat dijadikan alat untuk memberikan ide dan gagasan antar sesama peternak. Salah satu idenya yaitu kandang komunal yang didirikan pada suatu tempat supaya memudahkan peternak dalam mengorganisir usaha ternak. Pemeliharaan sistem kandang komunal merupakan upaya memindahkan ternak beserta kandangnya oleh beberapa pemilik ternak yang awalnya dipelihara dekat dengan rumah masing-masing peternak, ke suatu lokasi yang relatif jauh dari pemukiman untuk dikelola bersama-sama.


Kelompok tani ternak (KTT) umumnya sengaja dibentuk untuk maksud tertentu, sesuai dengan tujuan unsur pembentuk atau pihak yang memeloporinya. Samsudin (1987) menyatakan bahwa salah satu tugas penyuluh pertanian adalah menumbuhkan perubahan pengetahuan, kecakapan, sikap, dan motivasi agar petani/peternak menjadi lebih terarah. Dengan adanya sistem kandang komunal, pelaksanaan tugas seorang penyuluh menjadi makin efektif dan efisien karena petani atau peternak sudah berkelompok.



Daftar Pustaka

Departemen Pertanian. 1986. Penyuluhan Pertanian, Kedudukan dan Perannya. Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian, Jakarta.

Samsudin. 1987. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Bina Cipta, Bandung.

Comments :

0 comments to “Latar Belakang Pembentukan Kandang Komunal pada Kelompok Tani Ternak Sapi Potong”

Cari Artikel Lain, Ketik Kata Kuncinya disini

Mesin Pencari Ilmu Peternakan Dot Com

Loading...

ILMU PETERNAKAN

Top Post

YM Online

Join Us

Share It...,,

Share |

Send Us Your Feedback


"Dari berbagai sumber" atau "Pustaka" pada beberapa tulisan di Situs ini yang mengutip dari sumber lain dicantumkan nama pengarang dan tahunnya (didalam naskah tulisan), sedangkan yang tidak dicantumkan merupakan pengalaman dan pengetahuan dari penulis. Bagi anda yang akan memberikan kritik dan saran dapat menghubungi saya lewat alamat email: priyono.spt@gmail.com
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)

Donate your Article


"Situs ILMU PETERNAKAN merupakan pusatnya dunia peternakan. Bagi siapa saja yang peduli akan potensi peternakan. diharapkan dapat menyumbangkan artikel, jurnal, atau lainnya untuk dapat dipublikasikan di situs ini lewat Email: priyono.spt@gmail.com. Jangan lupa disertakan CV singkat anda. Terimakasih."
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)
 

Copyright © 2009 by ILMU PETERNAKAN