Mesin Pencari Ilmu Peternakan Dot Com

Loading...

Friday, July 17, 2009

Pengelolaan Mesin Tetas Pada Usaha Penetasan Telur Itik Komersial


Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email:
priyono.spt@gmail.com



PENDAHULUAN


Pemenuhan telur dan daging itik dapat dipenuhi dari diperlukan bibit itik yang baik dan unggul. Bibit itik yang baik dan unggul hanya bisa diperoleh melalui teknik pembibitan yang ditangani sesuai prosedur yang benar (Jayasamudra dan Cahyono, 2005). Teknik pembibitan harus ditangani secara benar dan tepat, sehingga menghasilkan ternak itik yang memiliki kualitas dalam menghasilkan telur konsumsi.


Kebutuhan produksi telur dan daging itik tidak dapat terlepas dengan proses penetasan. Saat ini, penetasan telur itik di Pedesaan masih banyak yang menggunakan induk untuk menetaskan telur. Hal ini dirasa kurang efektif karena jumlah telur yang dapat ditetaskan per induk relatif sedikit, yaitu hanya berkisar antara 5 sampai 10 telur. Sementara kebutuhan konsumsi telur dan daging terus meningkat seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di Indonesia, sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk dapat menetaskan telur itik sesuai dengan permintaan.


Salah satu teknologi yang sampai saat ini mulai digunakan adalah mesin penetasan. Penetasan telur itik sudah mulai dilakukan diberbagai daerah. Usaha penetasan telur itik dengan mesin tetas di Yogyakarta pada umumnya menggunakan mesin tetas dengan kapasitas 250–350 butir/unit baik dalam skala usaha kecil, menengah hingga skala besar (Juarini dan Sumanto, 2000).


Usaha peternakan itik sebagai penghasil telur dan daging semakin mengarah pada usaha komersial yang pengelolaannya harus dilaksanakan secara efisien. Pengembangan usaha penetasan telur itik komersial seyogyanya harus dapat memenuhi permintaan dengan tidak mengabaikan kualitasnya, sehingga tercapai kepuasan antara produsen dan konsumen. Mesin tetas merupakan sumberdaya yang vital dalam keberlangsungan usaha peternakan itik secara komersial.



PEMBAHASAN


Pemilihan Telur Tetas


Telur tetas merupakan telur fertil yang akan ditetaskan baik menggunakan penetasan alami maupun menggunakan mesin tetas. Pengelolaan telur tetas membutuhkan ketelatenan dan ketekunan sehingga menghasilkan daya tetas yang tinggi. Telur tetas ini sudah dibuahi oleh pejantan dan telur tetas ini harus berasal dari induk itik yang bermutu baik.


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih telur tetas menurut Abidin (2004) yaitu:
-Berat telur harus berada pada kisaran normal, yaitu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

-Berat telur itik berkisar antara 50-60 gram per butir,

-Umur telur tetas tidak boleh lebih dari 5 hari dan telur sebaiknya disimpan pada suhu 15-17oC,
-Kulit atau cangkang telur bebas dari kotoran, baik berupa feses maupun sisa-sisa pakan yang masih menempel,
-Indeks telur normal, yaitu berkisar antara 70-80%.


Tatalaksana Penetasan


Pemilihan telur tetas yang tepat, maka akan menghasilkan daya tetas yang baik. Setelah memilih telur tetas dengan tepat, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan tatalaksana penetasan sesuai dengan kondisi aslinya. Kondisi mesin tetas disesuaikan dengan kondisi induk.
Langkah pertama yang dilakukan sebelum memasukkan telur tetas kedalam mesin tetas adalah membersihkan mesin tetas menggunakan desinfektan. Hal ini dilakukan untuk menghapushamakan bakteri maupun mikroba yang dapat mengganggu daya tetas dari telur yang ditetaskan. Suhu didalam mesin tetas diatur pada suhu 39-40oC. Kemudian telur tetas diletakkan pada rak mesin tetas dengan bagian tumpul diatas.


Mesin tetas dibagi menjadi dua bagian yaitu inkubator dan hatchery. Anak itik menetas setelah 28 hari. Jika pada ayam selama 21 hari dengan pengaturan 18 hari di inkubator dan 3 hari di hatchery. Telur diputar dua kali sehari. Pemutaran telur ditujukan untuk mendinginkan telur, seperti pada induk yang sesekali meninggalkan telurnya. Pemeriksaan telur (candling) dilakukan minimal 2 kali untuk mengetahui telur yang fertil dan infertil.


Suhu Udara Di Dalam Penetasan


Embrio akan berkembang bila suhu udara di sekitar telur minimal 70oF (21,11oC) namun perkembangan ini sangat lambat. Di bawah suhu udara ini praktis embrio tidak mengalami perkembangan, sehingga penyimpanan telur tetas sebaiknya sama atau dibawah suhu tersebut (Jasa, 2006). Berdasarkan hal tersebut, harus diatur suhu lingkungannya pada mesin tetas sesuai dengan kebutuhan proses penetasan.


Suhu embrio harus sesuai dengan kondisi pada proses penetasan alami menggunakan induk. Jasa (2006) menyatakan bahwa suhu yang baik untuk pertumbuhan embrio adalah berkisar diantara 35 – 37oC. Hal yang dilakukan supaya embrio dapat berkembang dengan baik maka suhu didalam ruang penetasan diatur dengan kisaran suhu 95 – 104oF, untuk menjamin embrio mendapatkan suhu yang ideal untuk perkembangan yang normal.


Kelembaban Relatif Penetasan


Kelembaban relatif didalam penetasan merupakan hal yang penting untuk menjaga kandungan air di dalam telur. Kelembaban relatif ditujukan untuk menjaga air didalam telur menguap terlalu banyak melalui pori-pori telur. Jasa (2006) mengemukakan kelembaban yang baik di dalam penetasan adalah berkisar antara 60% untuk menetaskan telur ayam atau 5 – 10% lebih tinggi untuk menetaskan telur itik atau saat akan menetas kelembaban dinaikkan menjadi 70% untuk menetaskan telur itik.


Pengaturan Sirkulasi Udara


Kandungan CO2 dalam penetasan jangan lebih dari 0,5%. Kandungan CO2 sampai 2% akan sangat menurunkan daya tetas dan bila mencapai 5% akan menyebabkan anak ayam atau anak itik tidak menetas. Untuk menghindarkan terjadinya hal tersebut (CO2 lebih dari 0,5%), hendaknya penetasan diusahakan jauh dari jalan raya atau jauh dari jalan yang ramai dengan kendaraan bermotor (Jasa, 2006).



KESIMPULAN


Pemenuhan kebutuhan telur dan daging itik dapat dipenuhi dengan bantuan mesin tetas pada usaha penetasan telur itik komersial. Pengelolaan mesin tetas dilakukan dengan pemilihan telur tetas, tatalaksana penetasan, pengelolaan suhu udara dan kelembaban relatif dalam mesin tetas.



DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Z. 2004. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas Semi Modern. Agro Media Pustaka. Jakarta.


Jasa, L. 2006. Pemanfaatan Mikrokontroler Atmega 163 Pada Prototipe Mesin Penetasan Telur Ayam. Teknologi Elektro. Vol 5 No.1 Januari-Juni 2006. www.pdffactory.com.


Jayasamudera D.J, dan Cahyono B. 2005. Pembibitan Itik. Penerbit Swadaya Jakarta.


Juarini, E. dan Sumanto. 2000. Model usaha itik lokal di D.I. Yogyakarta untuk menunjang pendapatan peternak. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan veteriner. Puslitbangnak. Bogor.

Comments :

4 comments to “Pengelolaan Mesin Tetas Pada Usaha Penetasan Telur Itik Komersial”

Tepi sungai tempat aku lepak said...
on 

good info... tq

ILMU PETERNAKAN said...
on 

Iya sama2.. silahkan jika ingin berdiskusi tentang peternakan dapat bergabung di forum diskusi kami... ditunggu.. makasih

Arang Batok Kelapa Mandiri Jaya Serang said...
on 

knapa tulur saya gak netes pdhal udah 28 hri

Arang Batok Kelapa Mandiri Jaya Serang said...
on 

knapa telur yang saya tetaskan di mesin penetasa gak netas padahal udah 28 hari......?

Cari Artikel Lain, Ketik Kata Kuncinya disini

ILMU PETERNAKAN

Top Post

YM Online

Join Us

Share It...,,

Share |

Send Us Your Feedback


"Dari berbagai sumber" atau "Pustaka" pada beberapa tulisan di Situs ini yang mengutip dari sumber lain dicantumkan nama pengarang dan tahunnya (didalam naskah tulisan), sedangkan yang tidak dicantumkan merupakan pengalaman dan pengetahuan dari penulis. Bagi anda yang akan memberikan kritik dan saran dapat menghubungi saya lewat alamat email: priyono.spt@gmail.com
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)

Donate your Article


"Situs ILMU PETERNAKAN merupakan pusatnya dunia peternakan. Bagi siapa saja yang peduli akan potensi peternakan. diharapkan dapat menyumbangkan artikel, jurnal, atau lainnya untuk dapat dipublikasikan di situs ini lewat Email: priyono.spt@gmail.com. Jangan lupa disertakan CV singkat anda. Terimakasih."
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)
 

Copyright © 2009 by ILMU PETERNAKAN