Wednesday, April 15, 2009

DAMPAK PENGGUNAAN HEWAN HASIL REKAYASA GENETIKA

Oleh:

Priyono, S.Pt

Mahasiswa Magister Ilmu Ternak UNDIP 2008/2009


Dampak penggunaan hasil rekayasa genetika yang telah menjadi kenyataan terjadi pada berbagai hewan transgenik. Animal Welfare Comittee (2006) menyatakan bahwa domba Dolly yang lahir pada 5 Juli 1996 diumumkan pada 23 Februari 1997 oleh majalah Nature. Pada 4 Januari 2002 di hadapan para wartawan dinyatakan bahwa domba tersebut menderita radang sendi di kaki belakang kiri di dekat pinggul dan lutut (arthritis).

Kelahiran domba Dolly berkat kemajuan teknologi rekayasa genetika yang disebut cloning dengan mentransplatasikan gen dari sel ambing susu domba ke ovum (sel telur domba) dari induknya sendiri. Sel telur yang sudah ditransplatasi ditumbuhkembangkan di dalam kandungan domba, sesudah masa kebuntungan tercapai maka domba lahir dengan nama Dolly. Sejak lahir domba Dolly tumbuh dan berkembang dalam keadaan sehat, akan tetapi setelah sesudah hampir enam tahun mulai muncul penyakit arthritis.

Jenis penyakit yang ditemukan oleh Prusiner SB, 1986 diklasifikasikan sebagai penyakit prion dan pada domba dikenal dengan nama penyakit Scarpie dan menular ke sapi sebagai penyakit sapi gila pada tahun 1986. Kekhawatiran penyakit prion atau penyakit gen sesudah 200 tahun kemudian baru menjadi kenyataan yaitu tahun 1787 sampai 1986 (Brinster, 1974). Demikian juga dengan penyakit arthritis yang diderita oleh domba Dolly setelah enam tahun baru muncul. Brinster (1974) menyatakan bahwa masa inkubasi pada penyakit Scarpie pada domba yaitu 1,5 tahun sampai dengan 4 tahun sedangkan penyakit sapi gila yaitu 4 sampai dengan 8 tahun.

Kekhawatiran terhadap penyakit arthritis domba Dolly disebabkan oleh penggunaan rekayasa genetika yang didukung oleh beberapa hasil hewan percobaan. Bains (1993) menyatakan bahwa percobaan Guff B L (1985), penggunaan gen pertumbuhan manusia kepada embrio, diharapkan akan muncul keadaan yang baik. Akan tetapi muncul buta, immunosupresif, arthritis dan gangguan pencernaan. Demikian juga Satiawihardja (1997) menyatakan bahwa penelitian Arfad Putzai (1998), penggunaan kentang transgenik yang mentah diberikan kepada tikus percobaan memberikan gejala gangguan pencernaan, immunosupresif, kekerdilan serta adanya arthritis. Kedua percobaan tersebut diatas merupakan kenyataan dampak negatif yang disebabkan oleh penggunaan organisme transgenik.

Satu-satunya gangguan kesehatan sebagai dampak negatif atau bentuk nyata penggunaan hasil rekayasa genetika pada manusia yang telah dapat dibuktikan adalah reaksi alergis. Akan tetapi setelah diketahui bahwa produk gen tersebut menimbulkan reaksi alergis, maka saat itu juga produk gen tersebut ditarik dari peredaran. Sehingga dikatakan sampai saat ini belum dijumpai lagi adanya dampak negatif gangguan kesehatan yang ditimbulkan dalam penggunaan organisme transgenik pada manusia.

Beberapa hewan percobaan yang dijumpai di lapangan seperti penggunaan organisme transgenik pada tanaman yang digunakan sebagai bahan pakan pokok larva kupu-kupu raja, menimbulkan gangguan pencernaan, menjadi kuntet akhirnya kupu-kupu tersebut mati. Temuan di lapangan mengenai kasus kematian larva kupu-kupu yang memakan bahan pakan produk organisme transgenik memberikan kekhawatiran terhadap pemberian hasil rekayasa genetika kepada hewan maupun manusia.

Bentuk nyata lain penggunaan hasil rekayasa genetika yang pernah dijumpai adalah adanya gangguan lingkungan berupa tanaman yang mempergunakan bibit rekayasa genetika menghasilkan pestisida. Setelah dewasa, tanaman transgenik yang tahan hama, tanaman menjadi mati dan berguguran ke tanah. Bakteri dan jasad renik lainnya yang dijumpai pada tanah tanaman tersebut mengalami kematian. Kenyataan di lapangan, bahwa hasil transgenik akan mematikan jasad renik dalam tanah sehingga dalam jangka panjang di khawatirkan akan memberikan gangguan terhadap struktur dan tekstur tanah. Selain hal tersebut juga dikhawatirkan pada areal tanaman transgenetik sesudah bertahun-tahun akan memunculkan gurun pasir (Satiawihardja, 1997). Kekhawatiran terhadap efisiensi penggunaan hewan transgenik juga terjadi di Meksiko, Animal Welfare Committee (2006) menyatakan bahwa penggunaan bovinesomatothropine kepada sapi meningkatkan produksi susu 25 persen, tetapi penggunaan pakan meningkat sehingga tidak ada efisiensi.

Dari berbagai sumber.


Comments :

0 comments to “DAMPAK PENGGUNAAN HEWAN HASIL REKAYASA GENETIKA”

Cari Artikel Lain, Ketik Kata Kuncinya disini

Mesin Pencari Ilmu Peternakan Dot Com

Loading...

ILMU PETERNAKAN

Top Post

YM Online

Join Us

Share It...,,

Share |

Send Us Your Feedback


"Dari berbagai sumber" atau "Pustaka" pada beberapa tulisan di Situs ini yang mengutip dari sumber lain dicantumkan nama pengarang dan tahunnya (didalam naskah tulisan), sedangkan yang tidak dicantumkan merupakan pengalaman dan pengetahuan dari penulis. Bagi anda yang akan memberikan kritik dan saran dapat menghubungi saya lewat alamat email: priyono.spt@gmail.com
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)

Donate your Article


"Situs ILMU PETERNAKAN merupakan pusatnya dunia peternakan. Bagi siapa saja yang peduli akan potensi peternakan. diharapkan dapat menyumbangkan artikel, jurnal, atau lainnya untuk dapat dipublikasikan di situs ini lewat Email: priyono.spt@gmail.com. Jangan lupa disertakan CV singkat anda. Terimakasih."
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)
 

Copyright © 2009 by ILMU PETERNAKAN