Wednesday, April 23, 2014

Revitalisasi Kawasan Rumah Pangan Lestari Menuju Indonesia Bebas Rawan Pangan



Oleh:
Priyono, S.Pt, M.Si
Alumnus S1 Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Alumnus S2 Ilmu Ternak Universitas Diponegoro Semarang

Sektor pertanian bagi bangsa Indonesia merupakan sektor penting yang langsung bersentuhan dengan rakyat. Dari sektor pertanian inilah, kebutuhan pangan rakyat Indonesia dipenuhi. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk tentu harus diimbangi dengan kesiapan penyediaan kebutuhan pangan. Tidak dapat kita pungkiri, pangan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia disamping sandang dan papan. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki ketahanan pangan yang dapat menjamin kebutuhan pangan bagi seluruh rakyat yang ada.
Pengenalan Konsep Integrasi Tani-Ternak Berbasis KRPL
Mengingat sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang vital, maka sangat perlu diapresiasi sekali langkah pemerintah yang menetapkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas nasional. Ketahanan pangan bersama 10 prioritas nasional yang lainnya telah dijabarkan dalam RPJMN 2010-2014. Kita sadar, bahwa upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan ini bukanlah hal yang mudah. Diperlukan partisipasi dari seluruh rakyat untuk mewujudkan Indonesia bebas rawan pangan. Pemerintah dan rakyat bersama-sama mengoptimalkan produksi pangan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh rakyat Indonesia, sehingga kita dapat menjadi bangsa yang berdikari dan dapat memanfaatkan serta melestarikan sumber daya alam yang berlimpah ini dengan maksimal.
Penyiapan dan pemenuhan kebutuhan pangan merupakan unsur yang penting dan strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Pangan sendiri menurut Dewan Ketahanan Pangan (2009) merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah untuk kepentingan konsumsi manusia, bahan baku dan bahan tambahan pangan maupun bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan atau pembuatan makanan dan minuman.
Upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Dalam RPJMN 2010-2014, ditetapkan target surplus beras 10 juta ton, peningkatan PDB sektor pertanian 3,7% per tahun, dan Nilai Tukar Petani (NTP) 115 – 120 pada tahun 2014. Jika ini benar-benar dapat terealisasi dan ada peningkatan target setiap 5 tahun sekali, tentu dalam 1 atau 2 dekade mendatang bangsa Indonesia akan semakin terhindar dari ancaman bahaya rawan pangan. Tentu realisasi tersebut seyogyanya memang harus merupakan kerjasama dari seluruh elemen bangsa ini.
Mengingat pentingnya pencapaian ketahanan pangan ini, maka kita perlu menggalakan kembali kegiatan-kegiatan yang mendukung pada terciptanya bangsa Indonesia yang bebas dari rawan pangan. Penggalakan kembali kegiatan ini dapat kita sebut dengan revitalisasi. Revitalisasi ini dapat kita mulai dari lingkungan terdekat kita sendiri yang memang sudah sejak lama menyimpan potensi namun belum digarap dan dikelola dengan baik.
Pemanfaatan lahan pekarangan dalam lingkungan keluarga sudah sejak lama memang dimanfaatkan untuk ditanami kebutuhan keluarga. Hingga saat ini pun masyarakat masih banyak yang memanfaatkannya, namun jika diamati belum ada sistem dan rancangan yang jelas. Akibatnya tidak terjadi pengembangan dan cenderung berada pada kondisi yang tidak menggembirakan dalam upaya perwujudan ketahanan pangan.
Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani
Sudah sejak beberapa tahun lalu pemerintah, melalui Kementerian Pertanian sudah mengenalkan konsep Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).  Model Kawasan Rumah Pangan Lestari merupakan kumpulan dari rumah tangga yang memanfaatkan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, diversifikasi pangan, pelestarian tanaman pangan, peningkatan pendapatan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Keberadaan KRPL ini dapat menjaga stabilitas pangan ditingkat rumah tangga. Jika disetiap kabupaten/kota yang ada di Indonesia sudah menerapkan rumah pangan lestari dan dilakukan pengembangan secara masif, bukan tidak mungkin hal ini akan sangat membantu Indonesia menuju negara yang bebas dari rawan pangan.
Dari beberapa kajian Kementerian Pertanian, diperoleh 3 strata pekarangan rumah tangga, yaitu:
a.       Strata 1, berpekarangan sempit kurang dari 100 m2, atau tanpa pekarangan, hanya ada teras.
b.      Strata 2, berpekarangan sedang 100–300 m2
c.    Strata 3, berpekarangan lebih dari 300 m2


Contoh penerapan penguatan kembali atau penggalakan model Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yaitu:
  1. Lahan pekarangan sempit dengan luas lahan kurang dari 100 m2, dapat memanfaatkan model pot polibag atau vertikultur. Lahan tersebut dapat ditanami sayuran maupun tanaman farmakologi/obat-obatan. Contohnya: tomat, seledri, cabai, caisim, bawang daun, jahu, temulawak, dan kunyit.  
  2.  Lahan pekarangan sedang dengan luas lahan 100 – 300 m2, dapat ditanami sayuran dan tanaman obat/farmakologi, namun untuk jumlahnya polibag atau vertikulturnya dapat lebih banyak dan mudah dalam pengelolaan dibandingkan dengan lahan pekarangan sempit. Pada lahan pekarangan sedang ini juga dapat ditambahkan tanaman pangan dan hortikultura serta kandang ternak skala kecil jika memungkinkan, seperti ubi kayu, kacang tanah, bawang merah, ayam buras, dan itik. 
  3. Lahan pekarangan luas dengan luas lahan lebih dari 300 m2, dapat ditanami dengan berbagai macam tanaman sayuran, tanaman obat keluarga, tanaman pangan, tanaman hortikultura, ternak dan ikan. Khusus tanaman pangan dan hortikultura dapat memanfaatkan lahan untuk dibuat bedengan supaya mudah dalam pengelolaannya. Contoh tanaman yang ditanam seperti halnya pada lahan pekarangan sedang dan juga dapat ditambah dengan mengintensifkan pagar dengan ditanami labu atau pare.

Mengingat manfaat besar yang diperoleh dari adanya revitalisasi Model Kawasan Rumah Pangan Lestari dalam mendukung Indonesia bebas rawan pangan ini, marilah bagi pembaca yang telah membaca artikel ini untuk mensosialisasikan pada warga masyarakat disekitar anda tinggal. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membangun Indonesia menuju negara yang sejahtera dan memiliki kemandirian pangan. (Selesai ditulis: Rabu, 23 April 2014 Jam 10.34 WIB).
 

Cari Artikel Lain, Ketik Kata Kuncinya disini

Mesin Pencari Ilmu Peternakan Dot Com

Loading...

ILMU PETERNAKAN

Top Post

SELAMAT DATANG

Selamat Datang di Ilmu Peternakan Dot Com. Situs ini di didirikan oleh Priyono, S.Pt, M.Si sejak tanggal 1 November 2008. Ilmu Peternakan Dot Com didirikan dengan tujuan untuk mewadahi semua hal yang berkaitan dengan bidang peternakan. Ilmu Peternakan Dot Com umumnya berisi hasil pemikiran, ilmu, informasi yang penulis persembahkan kepada semua masyarakat khususnya di Indonesia. Tujuan utamanya adalah sebagai sharing, bahan pembelajaran dan pengabdian ilmu pengetahuan kepada masyarakat. (Owner dan Founder Ilmu Peternakan Dot Com: Priyono, S.Pt, M.Si)



Berapa lama alumni peternakan dari lulus sampai memperoleh pekerjaan?ar

Photo Collection

Loading...

Statistic Graph

Visitor Counter

free counters

Latest Visitor

YM Online

Join Us

Share It...,,

Share |

Send Us Your Feedback


"Dari berbagai sumber" atau "Pustaka" pada beberapa tulisan di Situs ini yang mengutip dari sumber lain dicantumkan nama pengarang dan tahunnya (didalam naskah tulisan), sedangkan yang tidak dicantumkan merupakan pengalaman dan pengetahuan dari penulis. Bagi anda yang akan memberikan kritik dan saran dapat menghubungi saya lewat alamat email: priyono.spt@gmail.com
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)

Donate your Article


"Situs ILMU PETERNAKAN merupakan pusatnya dunia peternakan. Bagi siapa saja yang peduli akan potensi peternakan. diharapkan dapat menyumbangkan artikel, jurnal, atau lainnya untuk dapat dipublikasikan di situs ini lewat Email: priyono.spt@gmail.com. Jangan lupa disertakan CV singkat anda. Terimakasih."
(ILMU PETERNAKAN Site Admin)
 

Copyright © 2009 by ILMU PETERNAKAN